Halaman

    Social Items

pasang

Asia Sexy - Cerita Sex Tante Alsiyah, “Ryan,hari ini kita kerja kelompok di rumahku,ya?”Rena datang ke arahku

“Oke,deh,jam berapa?”Tanyaku disertai anggukan

“Hmmmm,jam 1 deh,kira – kira sampai jam 5″Jawabnya disertai senyuman manis


Akupun mengangguk dengan senyum,Rena memang gadis paling cantik di kelasku,wajahnya manis,imut,dan

cantik,tapi tubuhnya sangatlah indah,dengan payudara sedang,kulit putih,dan pantat berisi,banyak yang

benar – benar jatuh cinta padanya,termasuk aku,ataupun orang yang hanya nafsu melihatnya dan

menggodanya.Aku sungguh beruntung,Bu Selvi memilihkan kelompokku,aku dan Rena,banyak teman yang iri

padaku.


Setelah pulang sekolah,aku sempat beronani mengingat Rena,lalu aku naik ke mobilku yang dikendarai

sopirku.


“Bang,nanti pulang jam 5,jangan jemput sebelum jam 5,ya?”Kataku pada sopirku

“Oke,deh”


Sampai di rumahnya,aku masuk ke rumahnya yang cukup besar,maklum ayah Rena pengusaha sibuk yang di rumah

pada malam hari,sementara ibu Rena,Bu Alyssa,seorang ibu rumah tangga. Slot Online Terpercaya


Saat aku masuk,aku disambut oleh Rena dan ibunya,aku tertegun melihat keduanya,Bu Alyssa sama cantiknya

dengan Rena,umurnya sudah 36 tahun,tapi wajahnya tetap cantik,tubuhnya ramping,payudara agak besar,dan

kulit putihnya tak seperti ibu yang sudah memiliki anak,kontolku berdiri keras melihat keduanya.Nafsuku

meningkat drastis.


Akupun diajak ke kamar Rena,sempat aku deg – degan berduaan bersama Rena,tapi nafsuku sangat,akupun

berusaha menahan nafsuku dan membantu Rena mengerjakan pekerjaan yang memang disuruh,kami duduk di meja

berhadapan.


Selama pekerjaan banyak kukeluarkan godaan padanya disertai candaan,membuatnya tersenyum malu dan

mukanya memerah,membuatku terpesona padanya,wajahku yang disebut ganteng oleh teman -temanku sering

dilirik oleh Rena.Jam 3 pekerjaan kami sudah selesai,sedangkan aku menyuruh untuk dijemput jam 5,akupun

disuruh menemani Rena dulu,sambil menunggu jemputan.


“Ryan,kamu lucu banget,ya?”

“Oh,tentu,dong”Jawabku bangga

“Tapi kamu juga ganteng”

“Ahh,kamu juga cantik,kok”Jawabku romantis.


Kini kami berpandangan,kuletakkan tanganku pada tangan lembutnya di atas meja,lalu aku duduk di

sebelahnya,kumajukan kepalaku ke kepalanya,dia tampak diam saja,kini kami berciuman romantis,bibirnya

terasa hangat,kukulum bibirnya selama 5 menit,karena sudah bernafsu, kucoba meremas payudaranya dengan

perlahan dan lembut,saat tanganku menyentuh payudaranya,dia tampak membiarkan saja,sehingga kini kami

berciuman sambil tanganku meremas payudaranya.


Sekitar 5 menit lagi kami melakukan begitu,lalu tiba – tiba pintu kamar dibuka,segera kulepaskan

ciumanku dan kembali seperti tak terjadi apa – apa,sungguh sayang,pikirku dalam hati.Bu Alyssa masuk dan

berkata


“Rena,kamu dipanggil papa ke kantor,ada urusan penting”


Rena semula menolak,tapi setelah dipaksa,diapun setuju,sementara kini Bu Alyssa duduk di

sebelahku,tangannya diletakkan di pahaku,kontolku mengeras dengan cepat,diapun berkata


“Nak Ryan,tadi tante lihat,kok apa yang kamu lakukan sama Rena”

“Hmm,Hmmmm”Aku takut dan gugup takut dimarahi

“Gak apa – apa,kok,tante gak nyalahin kamu,tubuh Rena memang menggairahkan,sih”


Aku agak kaget mendengar itu


“Ryan,kamu tahu,gak?Tante sekarang nafsu,nih melihat kalian tadi berciuman dan remas”


Aku pura – pura kebingungan,tapi aku nafsu mendengarnya.


Kini tangannya yang diletakkan di pahaku mengelus – elus lembut kontolku sementara dia menuntun tanganku

ke payudaranya,lalu dia mengarahkan kepalanya ke kepalaku,lalu kami berciuman lembut,tanganku kini mulai

meremas payudaranya yang masih kencang,lalu Bu Alyssa membuka celanaku sambil aku membuka bajunya,kini

kontolku terpampang,dia agak kaget dengan ukurannya, lalu akupun membuka bajunya dan BHnya,payudaranya

memiliki puting kecoklatan dan masih kencang,langsung saja dia mengulum kontolku yang mengarah ke atas

karena kami masih duduk,kulumannya sungguh enak,membuatku memejamkan mata sambil meremas payudaranya.


Kini kubuka celananya,lalu CDnya yang sudah basah,terlihatlah vaginanya yang masih indah meskipun sudah

mempunyai dua anak,masih berwarna kemerahan dengan bulu halus yang dicukur rapi,akupun menjilat

vaginanya,sangat nikmat dan harum,jilatanku semakin membuat vaginanya basah,dia meronta – ronta kegelian

dan kenikmatan,kini aku kembali duduk di kursi,Bu Alyssa naik ke pangkuanku,dia memaskan vaginanya pada

kontolku,lalu kuletakkan tanganku di pinggulnya,kini kontolku sudah masuk di vagina Bu Alyssa,pertama

perlahan,lalu semakin cepat,aku menaikturunkan tubuh Bu Alyssa dengan cepat,membuat dia memejamkan mata

dan vaginanya semakin basah,kurasakan kontolku dipijat oleh otot vaginanya,sangat nikmat sehingga

mebuatku mendesah kenikmatan,sementara kunaikturunkan tubuh seksinya dengan cepat.Cerpen Sex


“Ahhhh,Akkkhhh,Sssst,enak,Ryan,terus,Ahhhh”


Vaginanya mengeluarkan cairan hangat yang membasahi kontolku,lalu kupelankan sedikit karena aku sudah

merasa mau keluar,kuangkat tubuhnya ke kursi sebelah,lalu kusodorkan kontolku padanya,dia

mengocoknya,lalu keluarlah spermaku yang membasahi mukanya.


“Tante belum puas,Ryan,kamu masih ingin,gak?”

“Iya,tante”


Akupun mengangkat tubuhnya,kubaringkan ke kasur,dia membuka lebar kakinya,kuperhatikan vaginanya yang

sudah sangat basah,sangat indah, Slot Online Terpercaya


“Ngapain kamu,Ryan?Ayo cepat tancapkan”

“Iya,tante”


Dia menuntun kontolku masuk dalam vaginanya,setelah masuk,kumajumundurkan dengan cepat membuatnya

mengejang dan mendesah kenikmatan,pijatan vaginanya pada kontolku semakin keras dan nikmat,membuatku

memejamkan mata menikmati vaginanya,


“Ahhhh,Ehhhm,Akkkkk,Ahhhhhhh”


Desahan Bu Alyssa menambah nafsuku,tubuh dan wajah keringatnya menambah nafsuku,membuat dia mendesah

lebih keras


“Akkkh,Ryan,tante mau keluar”


Vagina Bu Alyssa mengeluarkan cairan hangat yang juga berjumlah banyak,kukeluarkan kontolku dari

vaginanya yang dari tadi memijat nikmat kontolku,lalu kusodorkan padanya,kocokan Bu Alyssa sangat

enak,sehingga 1 menit kemudian spermaku keluar dengan deras lagi,lalu Bu Alyssa membersihkannya dengan

mulutnya,kami terbaring dalam keadaan telanjang sambil berpelukan


“Gila,tante belum pernah secapek ini,Ryan,juga belum pernah senikmat ini”


Aku tersenyum mendengarnya,lalu kami segera membersihkan bekas orgasme Bu Alyssa dan spermaku,lalu kami

berpakaian kembali lalu melakukan french kiss,nafsuku naik lagi,ingin aku melanjutkannya di kamar

mandi,akupun mengajak Bu Alyssa,dia setuju,lalu kami melakukannya lagi di kamar mandi sampai jam

04.30,Rena pulang kembali ke rumah dan kami berbincang – bincang seperti tak terjadi apa -apa.


Sejak kejadian itu aku semakin sering main ke rumah Rena,dan tentu saja menikmati Bu Alyssa,ibunya sudah

kunikmati,sisa anaknya.

Cerita Sex Tante Alsiyah

Asia Sexy - Cerita Sex Mama Tiriku, Cerita ini dimulai dari saat aku usia 10 tahun, Papa dan Mama bercerai karena alasan tidak cocok. Aku sebagai anak-anak sih nerima aja tanpa bisa protes. Saat aku berusia 15 tahun, Papa kawin lagi. Papa yang saat itu berusia 37 tahun kawin dengan Tante Nuna yang berusia 35 tahun.


Tante Nuna orangnya cantik, setidaknya pikiranku sebagai lelaki disuia ke 15 tahun yang sudah mulai merasakan getaran terhadap wanita. Tubuhnya tinggi, putih mulus, pantatnya berisi dan payudaranya padat montok. Saat menikah dengan Papa, Tante Nuna juga seorang janda tapi belum mempunyai anak.


Sejak nikah, Papa jadi semangat hidup berimbas ke kerjanya yang super gila-gilaan. Sebagai pengusaha, Papa sering keluar kota. Tinggallah aku dan mama tiriku dirumah. Lama-lama aku jadi deket dengan Tante Nuna yang sejak bersama Papa aku panggil Mama Nuna.


Aku jadi akrab dengan Mama Nuna karena kemana-mana Mama minta tolong aku temenin. DirumaHPun kalau Papa nggak ada aku yang nemenin nonton TV atau nonton film VCD. Aku senang sekali dimanja sama Mama baruku ini. Slot Online Terpercaya


1 tahun sudah Papa nikah dengan Mama Nuna tapi belum ada tanda-tanda kalau aku bakalan punya adik baru. Bahkan Papa semakin getol cari duit dan sering banget keluar kota. Aku dan Mama Nuna semakin akrab aja. Sampai-sampai kami seperti tidak ada batasan sebagai anak tiri dan ibu tiri.


Kami mulai sering tidur disatu tempat tidur bersama. Mama Nuna mulai nggak risih untuk mengganti pakaian didepanku walaupun tidak bener-bener telanjang. Tapi terkadang aku suka menangkap basah Mama Nuna lagi berpolos ria mematut didepan kaca sehabis mandi. Beberapa kali kejadian aku jadi apal kalo setiap habis mandi Mama pasti masuk kamarnya dengan hanya melilitkan handuk dan sesampai dikamar handuk pasti ditanggalkan.


Beberapa kali kejadian aku membuka kamar Mama yang nggak dikunci aku kepergok Mama Nuna masih dalam keadaan tanpa sehelai benang sedang bengong didepan cermin. Lama-lama aku sengajain aja setiap selesai Mama mandi beberapa menit kemudian aku pasti pura-pura nggak sengaja buka pintu dan pemandangan indah terhampar dimata mudaku.


Sampai suatu ketika, mungkin karena terdorong nafsu laki-laki yang mulai menggeliat diusia 16 tahun, aku menjadi bernafsu besar ketika melihat Mama sedang tiduran dikasur tanpa pakaian. Matanya terpejam sementara tangannya menggerayang tubuhnya sendiri sambil sedikit merintih. Aku terpana didepan pintu yang sedikit terbuka dan menikmati pemandangan itu. Lama aku menikmati pemandangan itu. Kemaluanku berdiri tegak dibalik celana pendekku. Ah, inikah pertanda kalo anak laki-laki sedang birahi? Batinku.



Aku terlena dengan pemandangan Mama Nuna yang semakin hot menggeliat-geliat dan melolong. Tanpa sadar tanganku memegang dan memijit-mijit si otong kecil yang sedari tadi tegang. Tiba-tiba aku seperti pengen pipis dan ahh koq pipisnya enak ya. Akupun bergegas kekamar mandi seiring Mama Nuna yang lemas tertidur.


Kejadian seperti jadi pemandanganku setiap hari. Lama-lama aku jadi bertanya-tanya. Mungkinkah ini disengaja sama Mama? Dari keseringan melihat pemandangan ini rupanya terekam diotakku kalau wanita cantik itu adalah wanita yang lebih dewasa. Wanita berumur yang cantik dimataku terlihat sangat sexi dan sangat menggairahkan.


Suatu siang sepulang aku dari sekolah aku langsung ke kamarku. Seperti biasa aku melongok ke kamar Mama. Kulihat Mama Nuna dalam keadaan telanjang bulat sedang tertidur pulas. Kuberanikan untuk mendekat Mumpum perempuan cantik ini lagi tidur, batinku. Kalau selama ini aku hanya berani melihat Mama dari balik pintu kali ini tubuh cantik tanpa busana bener-bener berada didepanku.


Kupelototi semua lekuk liku tubuh Mama. Ahh, si otong bereaksi keras, menyentak-nyentak ganas. Tanpa kusadari, mungkin terdorong nafsu yang nggak bisa dibendung, kuberanikan tanganku mengusap paha Mama Nuna, pelan, pelan. Mama diam aja, aku semakin berani.



Kini kedua tanganku semakin nekad menggerayang tubuh cantik Mama tiriku. Kuremas-remas buah dada ranum dan dengan naluri plus pengetahuan dari film BF aku bertindak lebih lanjut dengan mengisap puting susu Mama. Mama masih diam, aku makin berani. Terispirasi film blue yang kutonton bersama temen-temen, aku tanggalkan seluruh pakaianku dan si otong dengan marahnya menunjuk-nujuk. Aku tiduran disamping Mama sambil memeluk erat.


Aku sedikit sadar dan ketakutan ketika Mama tiba-tiba bergerak dan membuka mata. Mama Nuna menatapku tajam.


“Ngapain Ndy? Koq kamu telanjang juga?” tanya Mama.

“Maaf ma, Andy khilaf, abis nafsu liat Mama telanjang gitu” jawabku takut-takut.

“Kamu mulai nakal ya” kata Mama sambil tangannya memelukku erat.

“Ya udah Mama juga pengen peluk kamu, udah lama Mama nggak dipeluk papamu. Mama tadi kegerahan makanya Mama telanjang, e nggak taunya kamu masuk” jelas Mama.


Yang nggak kusangka-sangka tiba-tiba Mama mencium bibirku. Dia mengisap ujung lidahku, lama dan dalam, semakin dalam. Aku bereaksi. Naluri laki-laki muda terpacu. Aku mebalas ciuman Mama tiriku yang cantik.


Semuanya berjalan begitu saja tanpa direncanakan. Lidah Mama kemuidan berpindah menelusuri tubuhku.


“Kamu sudah dewasa ya Ndy, gak apa-apa kan kamu Mama perlakukan seperti papamu” gumam Mama disela telusuran lidahnya.

“Punya kamu juga sudah besar, belom sebesar punya papamu tapi lebih keras dan tegang”, cerocos Mama lagi.



Aku hanya diam menahan geli dan nikmat. Mama lebih banyak aktif menuntun (atau mengajariku). Si otong kemudian dijilatin Mama. Ini membuat aku nggak tahan karena kegelian. Lalu, punyaku dikulum Mama. Oh indah sekali rasanya. Lama aku dikerjain Mama cantik ini seperti ini.


Mama kemudian tidur telentang, mengangkangkan kaki dan menarik tubuhku agar tiduran diatas tubuh indahnya. Mama kemudian memegang punyaku, mengocoknya sebentar dan mengarahkan keselangkangan Mama. Aku hanya diam saja. Terasa punyaku sepertinya masuk ke vagina Mama tapi aku tetep diam aja sampai kemudian Mama menarik pantatku dan menekan.


Berasa banget punyaku masuk ke dalam punya Mama. Pergesekan itu membuat merinding. Secara naluri aku kemudian melakukan gerakan maju mundur biar terjadi lagi gesekan. Mama juga mengoyangkan pinggulnya. Mama yang kulihat sangat menikmati bahkan mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya sehingga aku seperti sedang naik kuda diatas pinggul Mama.


Tiba-tiba Mama berteriak kencang sambil memelukku erat-erat,


“Andyy, Mama enak Ndy” teriak Mama.Cerpen Sex

“Ma, Andy juga enak nih mau muncrat” dan aku ngerasain sensasi yang lebih gila dari sekedar menonton Mama kemarin-kemarin.


Aku lemes banget, dan tersandar layu ditubuh mulus Mama tiriku. Aku nggak tau berapa lama, rupanya aku tertidur, Mama juga. Aku tersadar ketika Mama mengecup bibirku dan menggeser tubuhku dari atas tubuhnya. Mama kemudian keluar kamar dengan melilitkan handuk, mungkin mau mandi.


Akupun menyusul Mama dalam keadaan telanjang. Kuraba punyaku, lengket sekali, aku pengen mencucinya. Aku melihat Mama lagi mandi, pintu kamar mandi terbuka lebar. Uhh, tubuh Mama tiriku itu memang indah sekali. Nggak terasa punyaku bergerak bangkit lagi. Dengan posisi punyaku menunjuk aku berjalan ke kamar mandi menghampiri Mama.


“Ma, mau lagi dong kayak tadi, enak” kini aku yang meminta.


Mama memnandangku dan tersenyum manis, manis sekali. Kamuipun melanjutkan kejadian seperti dikamar.


Kali ini Mama berjongkok di kloset lalu punyaku yang sedari tadi mengacung aku masukkan ke vagina Mama yang memerah. Kudorong keluar masuk seperti tadi. Mama membantu dengan menarik pantatku dalam-dalam. Nggak berapa lama Mama mengajak berdiri dan dalam posisi berdiri kami saling memeluk dan punyaku menancap erat di vagina Mama.


Aku menikmati ini, karena punyaku seperti dijepit. Mama menciumku erat. Baru kusadari kalau badanku ternyata sama tinggi dengan mamaku. Dlama posisi berdiri aku kemudian merasakan kenikmatan ketika cairan kental kembali muncrat dari punyaku sementara Mama mengerang dan mengejang sambil memelukku erat. Kami sama?sama lunglai. Slot Online Terpercaya


Setelah kejadian hari itu, kami selalu melakukan persetubuhan dengan Mama tiriku. Hampir setiap hari sepluang sekolah, bahkan sebelum berangkat sekolah. Lebih gila lagi kadang kami melakukan walaupun Papa ada dirumah. Sudah tentu dengan curi-curi kesempatan kalo Papa lagi tidur. Kehadiran Papa dirumah seperti siksaan buatku karena aku nggak bisa melampiaskan nafsu terhadap Mama.Cerpen Sex


Aku sangat menikmati. Aku senang kalo Papa keluar kota untuk waktu lama, Mama juga seneng. Mama terus melatih aku dalam beradegan sex. Banyak pelajaran yang dikasi Mama, mulai dari cara menjilat vagina yang bener, cara mengisap buah dada, cara mengenjot yang baik. Pokoknya aku diajarkan bagaimana memperlakukan wanita dengan enak. Aku sadar kalo aku menjadi hebat karena Mama tiriku.


Sekitar setahun lebih aku menjadi pemuas Mama tiriku menggantikan posisi ayah. Aku bahkan jatuh cinta dengan Mama tiriku ini. Nggak sedetikpun aku mau berpisah dengan mamaku, kecuali sekolah. Dikelaspun aku selalu memikirkan Mama dirumah, pengen cepet pulang.


Aku jadi nggak pernah bergaul lagi sama temen-temen. Sebagai cowok yang ganteng, banyak temen cewek yang suka mengajak aku jalan tapi aku nggak tertarik. Aku selalu teringat Mama. Justru aku akan tertarik kalo melihat Bu guru Ratna yang umurnya setua Mama tiriku atau aku tertarik melihat Bu Henny tetanggaku dan temen Mama.


Tapi percintaan dengan Mama hanya bertahan setahun lebih karena kejadian tragis menimpa Mama. Mama meninggal dalam kecelakaan. Ketika itu seorang diri Mama tiriku mengajak aku nemenin tapi aku nggak bisa karena aku ada les. Mama akhirnya pergi sendiri ke mal.


Dijalan mobil Mama tabrakan hebat dan Mama meninggal ditempat. Aku merasa sangat berdosa nggak bisa nemenin Mama tiriku tercinta. Aku shock. Aku ditenangkan Papa.


“Papa tau kamu deket sekali dengan Mama Nuna, tapi nggak usah sedih ya Ndy, Papa juga sedih tapi mau bilang apa” kata papaku.


Selama ini papaku tau kalo aku sangat deket dengan Mama. Papa senang karena Papa mengira aku senang dengan Mama Nuna dan menganggapnya sebagai Mama kandung. Padahal kalau Papa tau apa yang terjadi selama ini. Aku merasa berdosa terhadap Papa yang dibohongi selama ini.


Tapi semua apa yang diberikan Mama Nuna, kasih sayang, cinta dan pelajaran sex sangat membekas dipikiranku. Sampai saat ini, aku terobsesi dengan apa semua yang dimiliki Mama Nuna dulu.


Aku mendambakan wanita seumur Mama, secantik Mama, sebaik Mama dan hebat di ranjang seperti Mama tiriku itu. Kusadari sekarang kalo aku sangat senang bercinta dengan wanita STW semuanya berawal dari sana.

Cerita Sex Mama Tiriku

Asia SexyCerita Sex Bos Nyokap, Banyak orang memanggil namaku Egiek, nama kesayangan yang diberikan keluargaku. Setelah menyelesaikan SMA di kota T, saya masuk kuliah dan tamat S1 di kota B ini, sebuah kota besar yang memancarkan kesibukannya setiap hari, yang mendorong kesibukan bagi warganya. Studi lanjut S2 di Jakarta saya selesaikan selama 2 tahun, kemudian kembali di kota B bekerja dan menetap di kota ini pula.


Malam itu sekitar jam 8, saya bergegas menuju stasiun kereta api untuk menjemput mama yang bersama dengan seorang temannya dari kota T. Setelah salam hormat cium tangan dan pelukan sama mama, sayapun memberi salam kepada temannya yang memperkenalkan diri, namanya Andi, kemudian kami ber-3 masuk mobil. Saya menyetir, mama duduk di sebelah saya, sementara temannya di jok belakang.


“Tadi mama mau naik taksi saja, katanya kamu fitness Giek” kata mama memecah kesunyian

“Ya Ma, tadi fitnesnya Egiek ajukan Ma, supaya bisa jemput mama”

“Ini Bu Andi Giek,, bosnya mama” kata mama memperkenalkan

“Boss apaan Bu…?” sahut Bu Andi merendah, menyanggah ucapan mama.

“Yang mama ceritakan tempo hari, Bu Andi mau masuk S2, di kota B ini, nanti kamu bantu ya…”

“Ya Ma, siap bu…” kataku penuh hormat.

“Terima kasih…Giek” sahutnya dari belakang.


Lamunanku melayang ke waktu sekitar 1 tahun yang lalu. Sebenarnya saya sudah tahu dengan bu Andi ini, ketika itu saya mengantar mama pada acara perkenalannya sebagai pejabat baru di kantor tempat mama bekerja, kebetulan waktu itu saya pulang ke kota T.

Cerita Sex Bos Nyokap

Dalam acara perkenalan itu dia duduk di kursi deretan terdepan, beserta dengan bos lainnya, saya bersama mama di kursi lain. Hanya dalam hati saya, perempuan ini berparas elok, kulitnya putih bersih ditunjang dengan tinggi badan, kira-kira 165 cm. Nampak anggun malam itu, memakai kebaya, berjilbab dan seleyer yang disampirkan pada bahu sebelahnya. Nama Andi, semula saya kira nama suaminya, ternyata memang namanya aslinya ‘Andi’. Pembawaannya kurang banyak bicara, hingga kesannya seolah sombong, tapi sebenarnya tidak sombong-sombong amat kalau sudah kenal. Situs Togel Online Terpercaya


Pesan mama, saya harus membantu kebutuhannya selama dia studi di kota B ini, tidak hanya saat pendaftaran ini saja, tetapi kalau perlu kebutuhan studi lainnya termasuk mencarikan kost-kosan dan sebagainya dan saya tidak keberatan. Saya mencoba memenuhi pesan mama dan mengatur antara tugas pekerjaan saya dengan membantu bu Andi. Keesokan harinya, hari Sabtu seperti biasanya saya libur, sesuai jadwal yang telah ditentukan saya antar bu Andi ke kampus untuk proses pendaftaran, kemudian mereka berdua saya ajak jalan-jalan keliling kota.


Pada waktu seleksi masukpun masih diantar mama, seperti saat pendaftaran dulu. Mama bercerita, suaminya tidak sempat mengantar, lagi pula sakit-sakitan, sehingga merasa repot untuk bepergian jarak jauh. Dia mengambil kuliah weekend, Sabtu dan Minggu. Biasanya tiba di kota B Jumat malam, Sabtu-Minggu pagi hingga sore masuk kuliah dan Senin pagi baru pulang dengan kereta atau travel.


Karena sering bertemu dalam membantu kebutuhan studinya, lama-kelamaan kami menjadi dekat, enak juga diajak ngobrol dan diskusi. Mungkin karena merasa lebih tua, saya kadang dinasehati. Usianya 35 tahun, sedangkan saya baru 26 tahun, jadi seperti kakak jauh atau tante begitu. Saya sering berkunjung ke kostnya, ngobrol atau sekedar makan malam bersama.


Terus terang saya mulai tertarik dengan sikapnya yang tenang, tapi cerdas yang menambah point kecantikannya. Dan saya menghormatinya, saya berinisiatif, ketika turun dari mobil saya sering membukakan pintunya, walau dia tidak mau diperlakukan demikian. Lambat laun ingin rasanya dalam hati untuk berhubungan lebih dekat lagi, misalnya mencium pipinya yang ranum itu dan ingin selalu berdekatan.


Di suatu Jumat siang saya di telepon bu Andi, dia minta untuk dijemput di stasiun pukul 17.00. Tidak seperti biasanya yang langsung ke tempat kost.


“Aku mau pinjam printermu untuk selesaikan tugas. Besok dikumpulkan” katanya dari seberang.

“Ya Bu, bisa…” jawabku


Sorenya cuaca hujan, dari kantor saya langsung ke stasiun menjemputnya. Beberapa menit kemudian kulihat dia muncul dari peron, memakai celana hitam dan blouse warna putih lengan panjang dan kerudung biru muda, menenteng tas dan mengembangkan senyum khasnya. Aku langsung bergegas menghampirinya meminta tasnya, kami berdua berpayung menuju tempat parkir.


Saya senang sekali bisa berdekatan, karena satu payung sampai mepet, hingga bau harum tubuhnya sampai di hidungku. Tapi ada perasaan aneh, dadaku tiba-tiba bergetar, ingin rasanya memeluk sosok perempuan cantik ini, tapi saya tidak berani. Sebelum sampai di rumah kami berdua makan bersama, namun tidak lama-lama seperti biasanya, karena terburu dengan menyelesaikan tugasnya. Dia harus selesaikan tugas malam ini di rumahku, karena di tempat kostnya tidak ada printer.


Iklan Sponsor :


Sampai di rumah, saya langsung menyiapkan untuk mengerjakan tugasnya, saya membantu mengedit, melengkapi referensi dan data, sementara bu Andi saya persilakan mandi dulu. Bagi saya, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan berat karena sayapun pernah mendapat tugas perkuliahan semacam ini. Keluar dari kamar mandi dia memakai jilbab putih, kaos ketat warna putih bergambar dan celana panjang warna hitama. Berjalan menuju meja mengentry data yang belum sempat dibuat.


Cantik memang, apapun yang dikenakan perempuan ini pantas dan tampak indah.


Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam lebih, saya berfikir; dalam rumah ini hanya ada saya lelaki dewasa dan bu Andi, perempuan cantik dan bukan muhrim. Kalau ada orang yang tahu tentu akan berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi. Saya memang mempunyai hasrat untuk memeluk atau mencium. Tapi suatu hal yang tidak mudah aku lakukan, bagai ada ‘tembok’ yang menghalangiku untuk berbuat seperti itu.


Tembok itu adalah kedudukan bu Andi sebagai atasan mamaku dan saya harus menghormatinya. cerpensex.com Mungkin aku bisa ‘melompat tembok’ itu dengan cara memaksa mencium atau memeluknya, tapi aku masih sadar; dia bisa marah dan akibatnya fatal. Tidak hanya pada diri saya saja, hubungan menjadi putus berantakan, tetapi juga bisa marah kepada mamaku sebagai anak buahnya. Dan ini tidak baik hanya pada diri saya saja, tetapi juga pada karier mamaku.


Lamunanku menjadi buyar, ketika perempuan bertahilalat di pipi ini berkata:


“Peralatan jilidmu lengkap juga ya Giek, bisa buka percetakan nih….kalau pensiun.” selorohnya ketika tahu tugasnya sudah terjilid.

“He…he… dulu ini juga untuk bikin tugas-tugas begini, Bu” kataku sambil membersihkan ruangan dan beranjak ke kamar mandi.


Dalam kamar mandi pikiran itu masih menggelanyut di kepalaku, bahkan ketika aku mulai melepas pakaian, tanpa sebab yang jelas tititku tegang dan membesar, aku tersenyum sendiri.


“Ngapain lu..” pikirku. Ini dia, efek dari pikiranku yang tertuju pada sosok perempuan cantik itu.


Selesai mandi, waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, kudapati bu Andi duduk sambil membalik-balik buku tugasnya. Saya mendekatinya dan berdiri di sebelahnya, cukup dekat. Dia berpaling ke arahku tersenyum dan berkata:


“Terima kasih ya Giek, atas bantuanmu selama ini dan terima kasih semuannya, aku selalu merepotkanmu” katanya.

“ Terima kasih, sama-sama, Bu Andi…”


Kemudian dia berdiri dari tempat duduknya, tapi aku tidak berusaha menjauh darinya, sehingga kami sangat dekat sekali, aroma wewangian tubuhnya sampai ke hidungku kembali. Wanita yang punya bibir indah itu belum beranjak dari tempat berdirinya, dia agak mendongakkan kepalanya ke arah wajahku.


“Kamu baik sekali…” katanya bergetar, tatapan matanya tertangkap penuh arti.

“Ibu jangan risau, saya hanya bantu, itupun tidak sepenuhnya.


Sering Ibu berangkat sendiri ke stasiun dan dari stasiun” kataku mulai bergetar juga. Saya memang sering bantu dia, tidak hanya antar jemput, tetapi juga mengerjakan tugas-tugas, mencarikan referensi buku.


Kemudian saya memberanikan diri memegang tangannya. Kedua tanganku meraih tangannya menggenggam lembut. Kami berhadap-hadapan dekat sekali, saling memegang tangan dengan eratnya dan mata kami beradu saling memandang. Kebersaman selama lebih dari empat bulan ini membuat kami merasa semakin dekat saja. Rasa hatiku sebagai lelaki dewasa bergeser dengan kesadaran menghadapi seorang perempuan dewasa pula. Getaran-getaran itu merambat yang kemudian mendorong hasrat yang kuat untuk memeluk dan mencium sosok perempuan pns ini.


Jantungku berdetak lebih keras lagi, kami berdua tanpa mengeluarkan kata-kata lagi. Masih saling memandang, mengikuti aliran pikiran masing-masing yang berkecamuk dalam kepala dan bergetar sampai dada. Namun aku merasa; mungkin pikiran bu Andi ini juga tidak jauh berbeda dengan benakku. Perasaanku mengatakan demikian. Kemudian dia mengatupkan matanya sambil mendongakkan kepalanya ke arah wajahku. Aku sambut dengan kecupan pada keningnya, kemudian memeluknya dengan ketat, sambil mencium keningnya. Angan-anganku tadi di taman parkir stasiun, kini menjadi kenyataan.


Dadaku mulai bergetar kencang demikian pula yang kurasakan dadanya bergetar kuat. Kami berdua saling berpelukan, ada sesuatu yang ingin saya katakan tapi tidak kuasa mengungkapkannya. Ada seribu kata tak terucapkan, demikian pula dia berdiam tapi makin mempererat pelukannya, seolah tidak ingin berpisah dan melepas. Kedua tangannya merangkul pinggangku dengan ketat, kami berdua ingin menyatu.


Iklan Sponsor :


Dada kami berdua bertalu-talu saling berkejaran. Aku mulai mengecup bibirnya agak ragu, tetapi bu Andi menyambut dengan kecupan lembut. Kami berciuman bibir, menyisir bibir indah itu, kemudian saling melumat lembut, meluapkan perasaan masing-masing dan saling merasakan kenikmatan pada sudut-sudut bibir kami berdua.


Sementara dari luar terdengar hujan rintik-rintik, tapi di dada ini semakin membara. Beberapa menit bu Andi aku peluk kembali dan kedua tangannyapun memeluk aku. Berpelukan, berciuman kembali bergantian, lidah kami saling berinteraksi saling mengisap dan menari. Aku mundur pelan dan mengarahkan pantatku di meja tulis, bu Andi tetap merangsek ke depan dalam pelukanku, seakan tidak mau kulepaskan. Aku setengah duduk di meja, sementara berciuman ketat, lidah kami menari bersama dan saling memagut.


“Ibu cantik sekali…” rayuku

“Thanks Giek, kau pria gagah, tampan dan pintar, tapi perasaanmu lembut. Aku suka kamu…” katanya bergetar, terus terang, sambil tersenyum dan memandangiku penuh arti.

“Saya juga senang bersanding bersama Ibu. Sekarang sudah larut malam, kalau berkenan, Ibu menginap di sini saja malam ini” kataku memberanikan diri dan disambut dengan mengangguk dengan pandangan mata ke arahku, tanpa kata walaupun bibirnya bergetar.


Lalu dia merebahkan kepalanya di dadaku, kubelai-belai keningnya. Rasa dan perasaanku sangat dekat dengannya, cerpensex.com rupanya pelukan itu mempunyai arti sejuta kata dan rasa. Saya tidak bisa membedakan antara rasa sayang dan nafsu, yang campur aduk menjadi satu. Saya berusaha memilah-milah dan mengurai dua kata itu; ‘sayang’ karena selama ini dalam kebersamaannya, tapi juga ‘nafsu’, karena tititku menjadi tegak teramat sangat.


“Ada bagian lain yang bergerak-gerak…!” katanya sambil ketawa dan agak menjauh melepaskan pelukan.

“Iyaa…, he…he…” kataku ketawa pula.


Yang dimaksud tentu tititku, yang berontak saat kutempelkan ketat pada tubuhnya. Ini yang tidak bisa ditipu. Aku raih tangannya, dengan pelan aku membalikkan tubuhnya, sehingga dia memunggungiku. Tanganku mendekap dari belakang, Telapak tanganku posisinya persis pada teteknya, tapi aku tidak berani meremas. Hanya karena dekapanku kuat sehingga telapak tanganku kena sasaran. Dia meraba-raba wajahku dengan jari lentiknya. Roamantis sekali.


Beberapa menit kemudian kuangkat tubuh perempuan itu, tangan kananku mengangkat kedua pahanya, sedangkan tangan kiriku mengangkat punggungnya, lalu kubawa ke kamar, agak berat. Kurebahkan pelan-pelan di tempat tidur, kami mulai bergumul dengan cumbuan-cumbuan yang meningkatkan getaran-getaran pada tubuh kami. Dadaku bergemuruh kembali, berdetak dengan kerasnya sampai menggoncang-goncang dadaku dengan keras dan cepat, lebih cepat dari detak-detak jam dinding di kamar itu. Pertanda menanjaknya birahi kami berdua, tanda yang lebih nyata adalah tititku tegak sangat kuat sekali.


Saat dia tidur terlentang dan kaki kananku menindih kakinya, sementara tangan kananku menyusup pada susunya.


“Maaf, aku buka ya bu…” kataku sambil memegang kaosnya

“Sudah Sayang, sampai di sini saja ya” katanya lembut sambil menahan tanganku, dan katanya lagi:

“Mestinya kita nggak boleh sampai begini, aku kilaf tadi. Maafkan aku Giek ”

“Ibu nggak usah minta maaf, akulah yang bersalah”


Walaupun aku meminta maaf, aku tetap kecewa, mestinya aku segera bisa merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan, diusia 26 tahun ini. Tinggal selangkah lagi sudah sampai pada puncaknya, ternyata menjadi mentah. Nafsu yang sudah memuncak, tiba-tiba menurun dengan derasnya. Dalam hati aku bertanya: “Mengapa ketika saya angkat ke kamar tadi dia diam saja, mestinya dia melarang?”


“Mengapa pula dia bersedia menginap di rumahku?” Namun aku tetap berusaha menutupi kekecewaan hatiku kepada bu Andi yang berbaring di sisiku.


Sebenarnya akupun bisa memaksa dia untuk melayaniku, tapi itu tidak aku lakukan, dengan pertimbangan-pertimbangan di atas tadi. Paling tidak dia tetap ada di sampingku, kami bisa tetap ngobrol dan memandangnya sepuasnya dikala tidur nanti. Aku tetap menghendaki perempuan cantik ini tidur di rumahku malam ini. Lalu dia beranjak kekamar mandi, setelah beberapa saat keluar lagi. Kini dia memakai gaun tidur warna putih motif bunga, tanpa kerudung. Kemudian mendekat saya, tidur di sampingku, sambil mencium keningku.


Malam semakin larut, jam menunjukkan waktu pukul 12.00 malam. Kami berdua belum tidur, masih ngobrol ngalor-ngidul.Cerpen Sex


“Aku tahu perasaanmu Giek, kamu pasti kecewa. Tapi saya percaya kamu bisa memahami ‘kan?” katanya sambil membelai-belai bahuku.

“Ya Bu, saya paham 1000%” kataku, tersenyum sambil berbaring miring menghadap ke arahnya. Diapun memiringkan tubuhnya ke arahku. Tiba-tiba kaki kirinya ditimpakan pada kakiku. Aku senang sekali.

“Sudah, kita tidur, supaya besok fresh…” katanya.


Aku lihat jam 00.30, aku beranjak mematikan lampu terang dan kuganti lampu bad yang temaram. Seumur-umur baru kali ini aku tidur bersama perempuan, pikirku menghibur diri. Hatiku tetap bergetar walaupun aku tahu dia membatasi diri. Bagaimanapun aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku pura-pura tidur sambil melihat sosok perempuan cantik berbaring di sampingku. Perempuan ini benar-benar cantik, nafasnya teratur, mulutnya mengatup indah.


Dalam kondisi tidur saja kelihatan cantik, gumanku. Kemudian kakiku kutimpakan pada kakinya, tanganku ku taruh pada pinggulnya. Dia diam saja, mungkin sudah tidur beneran. Akhirnya dia beringsut mendekatkan diri pada tubuhku, akupun menyambut dengan memeluknya. Di bawah selimut bersama, tangan kiriku menyusup di bawah lehernya, sementara kaki kiriku menyusup pada selakangannya. Batapa aku senang sekali, dia tidak mengelak, bahkan menyambutku dengan pelukan pula. Kamipun berpelukan ketat, tapi lagi-lagi gejolak kelelakianku menanjak naik. Dia merangsek tubuhnya ke arahku katanya.


“Giek……” katanya lirih sambil tangannya disusupkan di balik kaosku dan mengelus-elus dadaku dan perutku.

“Ya Bu, saya dekap Ibu” aku mendekap seperti induk ayam yang melindungi anaknya.

“Belum tidur Bu..?

“Aku enggak bisa tidur. Tadi tidur sebentar, sekarang terjaga lagi…” katanya sambil mengusap-usap wajahku.


Kemudian katanya lagi


Dengan gemetaran tanganku mulai menyusup di balik gaunnya setelah membuka beberapa kancing di bagian dadanya, tampak behanya yang berwarna putih, seolah tidak muat menyangga susunya yang montok itu.


“Behaku buka saja, biasanya kalau tidur aku tidak berbeha. Sesak rasanya”

“Baik Bu, Maaf…” kataku, sambil menarik gaunnya ke atas, membuka kait behanya pada bagian punggung.


Saya bertambah terkesima melihat indahnya payudaranya, yang mendorong untuk meraba dan meremas lembut bongkahan daging ajaib ini. Saya remas dengan lembut dan pentilnya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu kupilin-pilin lembut. Bu Andi membuka matanya memandangiku, rona wajahnya menampakan sebuah kenikmatan, sambil menatap langit-langit.


Wajahku menyapu berkali-kali payudaranya sesekali membenamkan pada sela antara keduanya. Tangannya juga masuk merayap lembut pada tubuhku, kemudian sampai pada cedeku, dielus-elus tititku. Senjata yang sejak tadi tegak maksimal itu, sekarang tambah ngaceng berat! Betapa tidak? Dipegang oleh tangan lembut, tangan seorang wanita ayu. Kemudian kubuka celanaku supaya tidak sakit tertekan celana.


Keberanian semakin meningkat, aku meraba bokongnya di balik cedenya, sambil menggesek-gesekkan pada pahanya yang mulus itu. Ketika aku bermaksud membuka cedenya, aku berkata:


“Ini boleh aku buka?”

“Jangan… Nggak, Giek, masa aku telanjang bulat… Kan nggak boleh itu?” sambil menahan tanganku.

“OK, I’m sorry, Mrs” kataku walaupun aku kecewa berat.


Namun tititku tegak bukan kepalang, melihat pahanya yang putih mulus dan bersih itu.


“Kita tidak lebih jauh ya Giek… Gini aja, kan sudah enak…? ” katanya sambil memegang tititku dibelai-belai lembut dan agak sedikit manja.

“OK, maaf Bu” kataku walau aku kecewa untuk yang kesekian kalinya.

“Kamu jangan panggil aku Bu, Panggillah aku ‘Andi’ saja, agar lebih karib”

“Ya, terima kasih” kataku senang berbunga-bunga.

“Tapi aku takut Giek…” katanya lagi.

“Takut apa?”

“Kalau tetanggamu tahu..”

“Jangan kawatir Bu”

“Bu lagi…!” sergahnya. Aku memang masih kikuk memanggil ‘Andi’ saja.

“Mereka tidak akan tahu. Seandainya tahu, merekapun tidak akan peduli.


Lihat saja pagar mereka tinggi-tinggi, sehingga setiap aktivitas tetangganya tidak akan diketahui. Mereka individualis, dan tidak peduli.” kataku meyakinkan.


Kemudian aku tetap membuka kaosku, jadi aku sudah telanjang bulat. Walau hanya bercumbu aku tidak peduli, aku tetap telanjang, terserah dia mau telanjang atau tidak. Sebenarnya aku ingin sekali mencapai klimaknya, seperti yang tergambar dalam bf yang sering aku lihat. Aku ingin mempraktikkan, ingin merasakan yang sebenarnya! Walau aku pernah onani, tapi ingin sekali merasakan dengan perempuan. Namun saya tidak bisa memaksanya, saya takut fatal akibatnya, dia mau setengah telanjang, itu sudah luar biasa bagiku.


Toh saya masih boleh ngeloni, meraba-raba pahanya mulusnya, memainkan puntingnya dan menciuminya dan menjelajah seluruh tubuhnya. Sudah cukuplah, pikirku. Suatu perkembangan yang sangat pesat. Saya pun tidak mengira sebelumnya sampai begini, paling tidak sejak di parkiran tadi. Peringatan bu Andi tadi membuat aku jera. Sekarang saya tidak mau merusak suasana indah ini. Kalaupun tidak boleh dimasukkan, akan aku masukkan lewat jepitan pahanya. Itu sudah lebih dari bagus, pikirku. Mungkin di antara pembaca berpikir, apa yang aku lakukan bisa menjadi bahan ejekan: “Bodoh amat itu orang, hanya dijepit saja sudah senang…” Ya begitulah kondisinya, Bro.


“nDik..” kataku

“Lah.. gitu, enakkan..?”

“Saya sudah telanjang begini, nih” kataku menggoda.

“Itu kan urusanmu, bukan urusanku” sambil tersenyum


Sebenarnya urusannya juga. Dia menikmati juga, terlihat cede pada bagian selakangannya sudah basah oleh cairan dari Mrs-Vnya. Lalu dalam lamunanku aku punya ide dan pikiranku berkembang: “Mengapa aku tidak bikin mainan miliknya yang lain, kan lebih mengasyikkan. Seperti di BF itu?”Cerpen Sex


Sementara dia terlentang, posisiku seperti merangkak, tanganku membuka kedua pahanya dan ku sibak cedenya ke samping pada bagian selakangannya yang ditumbuhi rambut tipis itu. Saya menyinari dengan lampu hp, selakangannya becek sampai membasahi cedenya, jemariku mulai menyentuh klitorisnya mempermainkan antara ibu jari dan jari telunjukku.


Dia sendiri membuka pahanya agak lebar lagi, sehingga belahan warna pink kelihatan jelas walau sebagian terhalang oleh cedenya. Bu Andi mendesah lembut ketika aku memilin-pilin klitorisnya, dan jemariku yang lain masuk lorong pink yang mengeluarkan cairan itu, menari-nari menekan bagian atas lorong itu. Dia bergelincangan. Lalu aku mendekatkan mulutku pada tempik (vagina)nya itu, ujung lidahku menari-nari pada benda sensitifnya.


“Ah….” desahnya tertahan sambil kakinya bergelincangan.


Sesekali kedua bibirku mengatup-katup benda kecil berwarna pink itu, kemudian mengisap-isapnya berirama. Perempuan bertubuh indah itu mulai bergelincangan hebat seperti cacing kepanasan.


“Ah…uh… ah… uh… Giek..” suaranya lembut hampir tak terdengar. Saya tidak peduli, bahkan aku sedot-sedot terus kletorisnya dengan nafsuku, menyaksikan tingkahnya ini aku tambah bergairah dan bernafsu.


Setelah bergelincangan hebat dia mengejang sambil mulutnya mendesis-desis. Sampai kepalaku dijepit kedua pahanya, aku tetap menyedot-sedot benda kecil itu, untuk menghilangkan kekecewaanku. Aku tidak peduli!


“Ahhh ….Mas…” desahnya lagi, dia rupanya orgasme. Baru pertama kali ini dia menyebut aku ‘mas’


Aku menghentikan aktivitasku mengeksploitasi V-nya, terlihat cairan dari vagina atasan mamaku itu mulai mengalir dan becek sekali, sehingga cedenya tambah basah kuyup. Kemudian aku mengambil tisu membersihkan V-nya, agak lembab lalu kutaruh lipatan tisu kering di antara Mrs. V-nya dengan cedenya. Saya berbaring di sampingnya sambil mengecup bibirnya.


Setelah nafasnya teratur, kembali aku memilin-pilin pentil susunya. Lambat laun dia bergerak menindihku menciumi dadaku, kemudian bibirku dengan penuh nafsu tapi lembut. Menyodorkan susunya pada mulutku, lalu melorotkan tubuhnya ke arah kakiku, tititku dicepit di celah kedua susunya dan digesek-gesekkan. Beberapa saat kemudian melorot lagi, gerakannya seperti ular yang mlungsungi (ular yang mau ganti kulit), dia memasukkan tititku ke mulutnya dan dikulum-kulum lembut. Saya merasakan surprise enak luar biasa, seperti aku melayang-layang di angkasa luas. Nikmat abizz.


Bagaimana kalau saya keluarkan di mulutnya? Belum sampai saya keluarkan, tapi kemudian dia bergerak merayap ke atas dan menindih tubuhku sambil menggoyang-goyang pinggulnya setelah posisi selakangannya di tempatkan ketat pada tititku, kemudian digesek-gesek lembut. Tititku terasa basah oleh cedenya itu.


Kami tertidur sambil berpelukan, rasanya baru saja memejamkan beberapa menit, ternyata subuh tiba, sekitar jam lima dia bangun lalu ke kamar mandi. Akupun ikut bangun merapikan tempat tidur. Bu Andi memanggil aku dari kamar mandi. Aku mendekat dan pintu kamar mandi terbuka:


“Mandi sekalian yuk…”

“Sip…”kataku langsung mebuka seluruh pakaianku, lalu masuk kamar mandi. Di kamar mandi kudapati bu Andi sudah polos tanpa kain selembarpun.


Saya menjadi takjub, seumur-umur baru kali ini melihat dengan mata kepala sendiri seorang perempuan telanjang. Tubuhnya benar-benar indah, cantik tidak hanya wajahnya tetapi sekujur tubuhnya cantik, indah mengundang gairah lelakiku bertambah. Pagi itu aku baru melihat tubuh bu Andi utuh, tanpa busana. Polos.. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat indah, susunya montok, pinggulnya bulat dan perutnya ramping, bentuk kakinya indah sekali. Pada pangkal pahanya membentuk huruf ‘V’ dihiasi rambut tipis. Tadi malam di tempat tidur, tidak seluruhnya kelihatan. Benar-benar perfect body orang ini, pikirku.


“Kok polos nDik, enggak pakai pakaian?” tanyaku heran

“Nggak. Kan mau mandi? Masak mandi pakai pakaian? Kalau saat mandi boleh polos” katanya.

“O.. gitu” kataku nggobloki. “Apa ya bedanya di tempat tidur?” pikirku.


Kami berdua mandi di bawah guyuran shower, saling menggosok dan menyabun. Saya senang sekali saya menyabun susunya, pinggulnya dan selakangannya. Demikian pula dia menyabun seluruh tubuhku dan menggosok tititku dengan sabun. Busa-busa sabun memenuhi seluruh tubuh kami berdua. Kami berangkulan sesekali membersihkan tubuh dari busa sabun di bawah guyuran air.


Tititku yang ngaceng dipegang-pegang, kemudian dia agak berjinjit, dan saya agak menekuk lututku supaya alat kami beradu. Dia hanya menggesek-gesekkan kepala tititku pada klitoris dan lubang Mrs Vnya. Tapi aku diam saja, katanya tidak boleh lebih jauh tapi kok begini? Saya tidak habis berpikir. Kemudian dia memutar air shower lagi dan kami kembali bergulat di bawah guyuran air. Setelah mengeringkan badan dengan handuk, dia melilitkan handuk pada tubuhnya dan kuangkat ke tempat tidur.Cerpen Sex


“Bahumu kekar dan kokoh Giek. Aku suka kamu”

“Aku juga suka kamu nDik. Kamu cantik sekali” kataku


Aku membungkuk membaringkannya, tangannya tetap bergelayut pada bahuku dan menariku, katanya:


“Tuntaskan sekarang Yuk, Giek. Aku tidak mau mengecewakan kamu. Aku tahu, kamu semalam sangat ingin kan?


Aku sebenarnya juga seperti kamu, sudah lama aku jarang melakukan dan tidak terpuaskan. Mengapa tidak kita coba?” katanya retorik sambil meneteskan air mata. Lalu dia bercerita, bahwa suaminya sakit-sakitan, dan sudah jarang bermain kalaupun berhubungan, tidak sampai mampu memuaskannya.” katanya, aku menjadi iba lalu mengusap air matanya.


“Sayang, anduknya agak basah. Nanti kamu kedinginan” kataku

“Ganti yang lain aja, baru ambil anduknya” sahutnya. O ya, aku teringat dia tidak mau telanjang bulat di tempat tidur.


Aku meraih sarungku yang saya taruh di atas bantal, tidak saya buka lipatan seluruhnya, setengah terlipat kemudian saya tumpangkan pada bagian perutnya, sehingga pada bagian dada dan pinggulnya masih polos. Supaya dia tidak telanjang bulat.


Kemudian kami berdua bergumul di tempat tidur, saling mencium dan meraba. Dadaku mulai bergetar kembali, menggumuli bu Andi. Dia membiarkan aku menikmati susunya yang ranum dan kenyal itu, sementara dadanya terasa bergemuruh. Puntingnya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu aku dot kanan-kiri. Sesekali wajah kubenamkan di antara kedua susu indah itu. Sementara tangannya menyusup ke bawah, aku masih belum berpakaian sejak dari kamar mandi tadi. Dia memegang dan mengelus-elus tititku yang mencuat tegak, seperti meriam itu. Akupun membelai selakangannya yang sudah basah oleh cairan hangat.


“Basah lagi nDik” kataku

“Ya, sejak tadi malam juga sudah basah begitu” katanya agak malu-malu.


Kami kembali bergumul saling serang dengan ciuman-ciuman dan saling meraba, tititku dipegang dan di kocok-kocok lembut.


“Mantap… besar”

“Apa tidak biasa segitu”

“Enggak, ini besar, jumbo lagi..” katanya seketika itu.


Dadaku mulai bergetar kembali, menggumuli bu Andi. Dia memegang dan mengelus-elus tititku yang mencuat tegas, dan akupun membelai selakangannya. Lalu aku mempermainkan Mrs Vnya, sekarang sudah tidak terhalang cedenya, aku agak leluasa. Sementara aku menikmati selakangannya, dengan lidahku pada klitorisnya, jemariku membuka Vnya lebar-lebar dengan dominasi warna pink itu. Sekarang jelas sekali pemandangan indah itu. Sementara itu di sisi lain dia memegang tititku dan berusaha memasukkan pada mulutnya. Aku bergeser supaya senjataku dekat dengan mulutnya. Lalu di kocok-kocok sebentar kemudian dicepong kepalanya dan seluruh batangnya. Nikmatnya luar biasa.


Kembali kami bergumul, perempuan berkulit putih bersih itu menindihku, pada bagian pinggulnya saya taruh sarungku. Pinggulnya beringsut untuk mengambil posisi tepat pada senjataku, tapi tidak bisa, beberapa kali. Baru ketika tangannya memegang tititku dan menuntun pada lobang kewanitaannya sambil dia mendesah:


“Ahhh…” Agak seret, tapi bebas hambatan. Suatu kenikmatan yang teramat sangat. Betapa nikmatnya apa yang aku rasakan. Inilah kenikmatan baru yang aku rasakan, seolah-olah aku melayang-layang ke angkasa di antara awan-awan.


Setengahnya aku tidak percaya, semalam melarang, pagi itu dia yang mengajak dan lebih aktif? Tetapi rasa heranku segera aku kesampingkan. Saya fokus pada kenyataan apa yang saya hadapi. Rasanya nikmat dan enak sekali, luar biasa. Baru kali ini aku merasakan nikmatnya bersenggama ini. Selama ini saya hanya berkhayal dan kemudian onani. Tapi ini kenyataan, bukan mimpi, tititku masuk di tempik perempuan dan perempuan itu Bu Andi, atasannya mama. Dia tidak banyak bergerak hanya sesekali saja, akupun mengimbangi gerakannya di atas tubuhku, dengan lembut tapi menimbulkan rasa nikmat luar biasa. Rupanya dia menganut pepatah slow but sure itu. Pelan tapi pasti. Pasti enak!


“nDIk, semalam kamu menahan saya, tapi sekarang kamu yang aktif? Apakah kamu merasa saya paksa?”

“Enggak Giek… enggak. Saya tidak tahan dengan gempuranmu semalam dan tadi itu, aku menyerah… pertahanku bobol” katanya sambil menggoyang pinggulnya.

“Iya… boleh juga” kataku puas.

“Saya belum pernah diperlakukan seperti tadi oleh suamiku, seumur-umur. Dia selalu konvensional dan cepat selesai” katanya


Perempuan beranak satu yang berumur 10 tahun itu, kembali menggoyang-goyang lembut pinggulnya yang berbentuk sangat indah itu. Dadaku bergemuruh seperti langit akan menurunkan hujan lebat, bergetar keras bercampur dengan rasa nikmat tiada tara. Rasanya darahku mendidih dengan dahsyatnya, seluruh ototku rasanya ikut merasakan kenikmatan, yang dalam anganku aku setengah tidak percaya. Inikah Bu Andi, atasannya mama? Ini kenyataan bukan bayang-bayang dalam anganku atau mimpi.


“Pentilku emut Mas….” katanya manja, terbata-bata tanpa menghentikan aktivitas pinggulnya yang bergerak memutar, meliuk dan naik-turun, keluar masuk.


Mulutku nyepong pentilnya, kedua tanganku mencengkeram ketat pantatnya, mengiikuti irama pinggulnya.


Gerakan perempuan lembut ini makin mempesona di atasku, sekitar lima menit dia meningkatkan gerakan pinggulnya, makin keras dan kuat sampai menggoncang-goncang tubuhku. Aku makin kuat mencengkeram kedua pantatnya yang indah itu.


“Ah….keluar…. Mas…. “ katanya terengah-engah, sambil menyapu mulutku dengan bibirnya, tapi aku belum mencapai puncak.


Sejenak diam, tetapi kemudian menggerakkan lagi dan lagi-lagi meleguh..”Ahh…” sampai akhirnya terkapar lemas di atasku.


Nafasnya berkerjar-kejaran, terengah-engah seperti habis fitness saja. Tanganku mengelus-elus punggungnya yang halus itu, sementara dia mencium bibirku dan sesekali menggerakkan pinggulnya. Beberapa menit kemudian kami bergulung, sehingga posisiku menindih tubuhnya. Kembali dia mencari sesuatu yang tertindih, kemudian aku menyambar lipatan sarungku kutaruh pada bagian perutnya untuk menutupi tubuhnya, walau di bawah tindihanku. Pelan-pelan aku mulai memompa perempuan bertubuh molek ini dengan pelan. Seperti gerakannya tadi naik-turun, keluar masuk. Situs Togel Online Terbaik


Sementara saya tembak, dia memandangi wajahku sambil meraba-raba dadaku dan punggungku, demikian juga pinggulnya digoyang yang berlawanan dengan irama gerakanku, sehingga menimbulkan efek nikmat. Ketika aku genjot masuk, dia menyambut dengan mengangkat pinggulnya, ketika aku berputar kekiri dia bergerak ke kanan. Selalu berlawanan dalam gerakannya, yang menambah kenikmatan. Tapi sebenarnya gerakan apapun yang kami lakukan membawa nikmat tersendiri.


Udara dingin tanpa terasa menusuk kulit kami, justru menambah nikmatnya kami bergumul. Suara detak-detak jam dinding memecah kesunyian kamarku, tetapi sebenarnya detak jantung kedua insan lain jenis, laki-perempuan ini saling berpacu dengan memburu, kejar-kejaran mencari puncak kenikmatan. Susunya yang montok selalu menjadi sasaran bibir, wajah dan tanganku untuk menyalurkan nafsu yang tiada terbendung ini.


“Rasanya terjepit nDik.., punyaku….” kataku karena merasakan lobangnya cukup sempit untuk punyaku. Tapi ini ternyata membawa nikmat sendiri.

“He-eh, milikmu yang kelewat gedhe. Pelan-pelan saja, biar lebih lama” katanya, sambil tangannya mengelus punggungku.


Sambil memompa tubuhnya dengan lembut dan berirama, aku memandangi wajah ayunya, demikian juga ia memandangiku. Aku teringat, ketika malam perkenalan itu, setahun yang lalu, saat dia memberi kata sambutan, pelan tapi wibawa sebagai seorang pemimpin. Demikian juga ketika memberi nasehat di suatu waktu, dengan ucapan:


“Secara akademik kamu lebih tinggi dari aku, tapi aku kan lebih lama menghirup udara dunia ini dan lebih banyak makan asam garam kehidupan ini daripada kamu”

“Ya Bu, terima kasih atas nasihatnya” kata ketika itu.


Sudah beberapa menit aku di atas, kedua kakinya kadang dililitkan pada kakiku, pahanya direnggangkan dan bahkan dirapatkan sambil mengatupkan kedua pahanya, sehingga terimbas pada kewanitaannya sepertinya mengisap-isap tititku dengan kuatnya. Aku memutar-putar pinggulku seakan mengebor milik bu Andi dan tubuhnya tergoncang diiringi dengan suara lirih “Ah….Say…” Dengan perlakuan ini jelas membawa nikmat luar biasa.


Sesekali kedua tanganku lurus menompang berat badanku, lalu kuturunkan, bertumpu pada siku-siku sambil kedua telapak tanganku mempermainkan puntingnya dan meremas susunya. Kadang-kadang jemari kami berdua saling bertautan. Cukup capai, tapi aku tidak berusaha untuk melepas kenikmatan yang tiada tara ini.


Dari himpitanku itu, perempuan yang mengaku jarang diajak bermain cinta dengan suaminya itu berusaha keras menggerakkan pinggulnya memutar dan menggoyang lembut, dengan pesona dalam ritme yang tinggi. Wajah dan lehernya mulai membasah, berkeringat.


Rasa nikmat mulai menjalar keseluruh tubuhku mulai dari darah yang mengalir dalam tubuh secara deras dan terus menerus menerjang dan membakar dinding-dinding birahi, mendidih sampai menghempas dari berbagai penjuru tubuh. Dengan tenaga yang menghentak-hentak itu akhirnya aku sudah tidak mampu mengendalikan laju semprotan sperma yang dahyat memancar dengan daya dorong tinggi dan kuat sekali masuk ke lobang kewanitaan Bu Andi, diiringi dengan rasa kenikmatan yang dahsyat pula.


“Ahh…. aku keluar Sayang” kataku…

“Akh… tuntaskan Yang, aku juga keluar lagi” katanya terengah-engah… dengan pipinya merona merah jambu sebagai ekspresi kepuasannya.


Puncak kenikmatan telah kami raih bersama, suatu kenikmatan yang seumur hidupku, baru kali ini kudapat dari seorang perempuan. Dan orang pertama yang saya nikmati adalah Bu Andi. Sosok wanita pendiam, tegas dan cantik tentu saja. Aku puas sekali.


Sesaat dia bergerak lagi dan “Ah..” rupanya dia orgasme lagi.


Beberapa menit aku masih menindihnya, sementara tititku masih kuat menancap, sayang kalau dicabut, saya masih merasakan sisa-sisa kenikmatan.


“Aku puas sekali…Terima kasih ya nDik, kamu memuaskan aku” kataku sesaat setelah tititku lepas dari tempiknya, setelah beberapa menit mencapai puncak kenikmatan.

“Aku juga terima kasih. Kau mampu memuaskan aku, nikmat sekali rasanya. Tititmu terasa pas di milikku, walau agak ketat… Semula aku mengira, wah ini nggak muat, ternyata muat walau agak seret” bisiknya tersenyum.


Setelah nafasku pulih membersihkan selakangannya dengan wash lap hangat, lalu tititku, dia yang membersihkan.

Pagi itu tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 06.27 menit, astaga kami bermain satu jam lebih. Kami masih berbaring bersebelahan, dia menutup tubuhnya dengan sarungku, kemudian memakai gaunnya. Hujan mulai reda, hening terdengar tetesan-tetesan air dari genting ke pelimbahan.


Saya ke dapur membuat roti bakar dan dia menyusul membuat teh panas.


“Wah, enak itu Giek…”

“Sip…” kataku sambil mengacungkan jempol dan mencium keningnya.


Kami berdua duduk di sofa di ruang tengah, sambil menikmati sajian pagi itu. Duduknya beringsut mepet denganku, tangannya ditaruh di paha saya dan membelainya, aku tersenyum, sesekali menyuapi aku dengan roti bakar.


“Jam berapa Giek..?”

“Setengah tujuh. Kamu berangkat ke kampus jam berapa?”

“Setengah delapan, nanti. Jam delapan masuk”

“Perjalanan cuma seperempat jam, dari sini..” kataku disambut anggukan kepala.


Aku mencium keningnya, lalu duduk dipahaku berhadapan dengan ku lalu menciumiku. Pertama pipi kemudian bibir saya. Sayapun menyambut ciuman pagi itu dengan senang bahkan aku melumatnya dengan hebat, sampai nafasnya terengah-engah.


Dia merangkulku dengan kuat lalu menciumi leherku dan wajahku. Kami saling menyambut ciuman dengan ciuman penuh nafsu, kembali tanganku menyusup di balik gaunnya. Kemudian aku melanjutkannya ke atas meraih susunya, dia tidak berbeha. Dia rupanya lebih bernafsu pagi itu, dia merangsek terus dan duduk dipangkuanku sambil memeluk leherku.


“Lagi yuk…” katanya


Tanpa dimintapun, dalam kondisi begini aku tetap mempunyai hasrat yang sama, saya sangat bernafsu dengan perempuan ini. Sambil duduk, tangannya berpegangan pada sandaran sofa, saya melorotkan cedenya kemudian cede saya. Aku tidak membuka gaunnya, supaya tidak telanjang bulat. Kedua tanganku menompang sepasang bongkahan pantat bulat indah menggiurkan itu.


Tititku jelas sudah siap tembak itu, dipegang dan dimasukkan ke lobang Mrs Vnya. Dengan gerakan naik-turun dan diselingi putaran eksotik, aku menarik roknya bagian depan ke atas dan nyepong dan meremas lembut susunya yang mengeras dan kenyal itu. Dalam waktu tidak terlalu lama dia mengerang lembut. Dia orgasme dan diam sesekali menggerakkan pinggulnya dan Ah.. keluar lagi rupanya.


“Aku keluar.…” katanya dengan wajah serius


Aku belum keluar. Supaya lebih leluasa, maka bu Andi saya angkat ke kamar dan saya naiki di tempat tidur seperti yang pertama tadi. Dan di atas tempat tidur itu saya mengulangi adegan menggairahkan yang penuh dengan pesona keindahan tubuh bu Andi.


Setelah selesai, bersiap ke kampus. Aku mengantarnya ke kampus, dalam perjalanan pulang saya mampir belanja di super market dan kembali ke rumah. Rasanya lama menunggu perempuan cantik itu sampai sore. Akhirnya tiba juga dia SMS minta dijemput.


Sesampainya di kampus, sore itu dia masuk ke mobilku, duduk di sampingku, sambil berkata:


“Aku nginap lagi di rumahmu ya Giek..” katanya sambil tersenyum penuh arti.

“Ya, saya welcome selalu..” kataku


Sore itu, sesampai di rumah, kembali kami bercumbu. Saling membelai dan mencium.


“Kita mandi dulu, yuk…” katanya sambil beranjak menarik tanganku memasuki kamar.


Dia mulai membuka pakaiannya mulai dari jilbabnya, bleser dan kemudian celana panjangnya, aku membantu sampai menarik cedenya ke bawah. Lalu ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarku.


Dimulai sore itu sampai malam itu, aku mengarungi samudera birahi bersama bu Andi, sampai beberapa kali mencapai puncak, tiada bosan untuk mengulanginya. Relung-relung perasaan menyatu dengan tegarnya tititku ketika menghujam dalam-dalam Mrs Vnya Bu Andi. Perempuan ini memancarkan kepuasan pada guratan wajah bersihnya dengan rona merah jambu setiap mencapai orgasme. Kami merayakan setiap kepuasan malam itu dengan erangan yang dahsyat.


Minggu pagi harinya, aku terbangun pukul 05.00, biasanya aku lalu bangun, namun saat ini sayang aku tinggalkan tempat tidur. Bu Andi kelihatan masih pulas, dalam dekapanku, kaki kami saling berlilitan. Saya hanya memakai kaos, tanpa cede sementara Bu Andi hanya pakai cede dan kaos ku yang longgar sampai pada pahanya.


“Nggak usah pakai celana Giek..” katanya manja, tadi malam


Kami berangkulan dalam hangatnya selimut dan malas untuk bangun. Apalagi tangan Bu Andi memainkan tititku dan tubuhnya terus merangsek ketat ke arahku. Jam 06.00 kami baru bangun dan langsung mandi bersama. Ada bercak merah jambu di kedua pantatnya bekas cengkeraman telapak tangan saya. Setelah mandi kuangkat tubuhnya ke kamar, tidak lupa dia melilitkan handuk pada pinggulnya.


Sebelum dia memakai cedenya, aku tarik dia untuk mengelus tititku, kemudian dielus-elus lalu dimasukkan dalam mulutnya. Pertama lidahnya menari-mari di atas kepala titit, lidahnya berjalan dari pangkal bagian bawah ke arah puncaknya, kemudian dikulum lembut, berkali-kali. Karena aku tak tahan, lalu aku minta main dogy style dan dia menurut saja. Jam setengah delapan baru aku antar ke kampusnya.


Lusanya, Senin pagi, aku terbangun jam 5, lalu kuantar ke stasiun, kali ini Bu Andi tidak sendirian, tetapi saya antar sampai di kota T. Saya tidak sampai hati, selama tiga malam aku keloni, masak saya biarkan saja pulang sendirian.


“Nggak apa-apa Giek, biasanya pulang sendiri, kan” katanya ketika aku berniat mengantar.


Akhirnya aku tetap mengantar, Senin itu aku mengatur tugas kantor untuk mengambil tugas dinas di kota T, mengunjungi kantor cabang perusahaan di kota T, dengan supervisi di sana. Itu alasan yang saya kemukakan ke atasanku.


“Kita seperti manten baru ya…Giek” bisiknya saat di atas kereta.

“Ya, manten baru tiga hari” jawabku

“Sampai milikku sakit, kena rudalmu selama dua siang-malam…” bisiknya lagi

“Sama nDik, saya juga begitu, rasanya lecet” kami tersenyum bersama.

“Kamu hebat sekali Giek, aku puas…” katanya


Di atas kereta tangan kami ‘bekerja’ di bawah selembar selimut, dia memegang tititku sementara aku, mengelus pahanya, karena Vnya katanya masih sakit. Kami tertidur.


Di stasiun T kami berpisah, saya langsung ke kantor cabang kami. Sesuai dengan izinku, aku supervisi beneran. Saat istirahat siang, saya menolak untuk makan bersama rekan kerja di kantor cabang, karena ada janji dengan Bu Andi makan siang bersama. Sesampainya di kantor Bu Andi, saya menuju ruangan mama, setelah saya telepon mama dan bilang; kalau nanti mampir saat istirahat. Tanpa mengetahui latar belakang kedatanganku, tahunya memang supervisi ke kantor semata, maka oleh mama saya dianjurkan menemui bu Andi dan di antar ke ruangannya.


Ketika membuka pintu, Bu Andi yang sudah tahu kedatanganku, dia pura-pura surprise dan menyalamiku.


Bener-bener pemain watak. Setelah basa-basi seperlunya kami; mama, bu Andi dan saya makan bersama.


Sejak kejadian itu, setiap Jumat sampai Minggu, Bu Andi sering menginap di rumahku bahkan pernah walau kuliahnya libur, dia tetap berkunjung ke kota B, tentu saja menginap di rumahku. Saat liburan itu, dia mengajak keluar kota dengan bersepeda motor.


Sabtu pagi saya ajak ke sebuah perkebunan buah di sana menikmati udara segar, indahnya panorama pegunungan dan makan buah tentu saja setelah bayar kepada yang punya kebun. Di sebrang sana ada hamparan bangunan tempat wisata. Siang itu kami berangkat menuju sebuah vila dan bermalam di sana. Jarak tempat wisata ini tidak jauh hanya 30 km dari kota. Kami menginap sampai minggu sore baru pulang.


Pernah pula kuliahnya berhenti satu semester dalam kurun waktu kuliahnya, dia cuti karena hamil, di saat itu aku yang berkunjung ke T. Hari-hari berikutnya bahkan ganti tahunpun, kami selalu meluangkan waktu untuk mengarungi lautan asmara, mengisap madu libido menuruti hasrat seksualitas kami berdua. Saya sering mengisi rahimnya dengan pancaran sperma yang menyenangkan dan dia puas. Pernah sehabis kami ML dia mengaku, walau sepertinya menguras tenaga, tapi selalu memetik kenikmatan dan kepuasan bulat dariku. Hebat.

Cerita Sex Bos Nyokap

Asia Sexy - Cerita Sex 13 Cara Menjadi Budak Setan Perantara PSK, PSK disini bukanlah Pekerja Seks Komersil atau penjaja tubuh, melainkan singkatan dari Pelet Sex & Karma. Terdiri dari 13 jenis pelet dan 13 rupa karma (pembalasan).


Di sebuah villa besar nan megah di pemukiman elit namun sepi, adalah seorang Pak tua keluar dari mobil yang di parker-nya. Ia buka pintu sebelahnya dimana keluar seorang gadis muda, kemudian mereka jalan berdua-an seperti jalan santai di minggu pagi. Tapi cara mereka jalan beriringan.. tidaklah normal seperti layaknya khalayak umum. Si Bapak memperlakukan si gadis bagai ‘hewan piaraan’, genggam tali kekang berujung di sebuah kalung hitam yang melingkari leher si gadis yang tengah merangkak. Dan gila-nya, ternyata mereka tidak sendirian. Ada beberapa pria berpenampilan ala rakyat jelata persis dirinya datang mendekat. Dimana mereka juga sama.. menuntun ‘piaraan’ bawaan mereka. ‘Piaraan’ yang amat sangat cantik dan seksi.

“ck ck ck, wah-wah-wah-waaah… Ini toh… lonte-lonte kalian?” seru si Bapak pada yang lain, mereka saling berdecak kagum dengan koleksi masing-masing.

Tak sabar saling icip mencicip. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau di banding rumput sendiri sesuai kata pepatah. Mereka bertemu di beberapa acara yang sama kebetulan, ada yang teman rantauan (satu kampung) mengadu nasib bersama di Jakarta. Setelah saling bertukar info tentang Nona Majikan-nya yang telah takluk dan bispak (bisa di pakai), mereka sepakat mengadakan pesta seks tukar pasangan di villa yang mereka sewa ini, lalu bercinta gila-gilaan hingga tulang serasa lolos selama 3 hari 2 malam. Tapi bagaimana ini mungkin terjadi…? manalagi piaraan-piaraan yang dimaksud adalah artis atau celebrity Indonesia yang notabene ngetop se-Tanah air? Ada yang masih ABG pula? apa kata dunia?.


“Pak, cepet dong! aku di omelin sutradara nih.. jam segini masih di jalan,”.

“sabar Non, ini sudah maksimal. Tadi si Non siapan-nya lama.”.

“Eh-eh-eeh.. pakai jawab lagi! udah pintar sekarang, hah?!”.

“maaf Non, bukan maksud Bapak lancang.. tapi,”.

“iya-iya udah.. aku ‘gak mau dengar alasan apa-apa lagi, yang penting sekarang kebut!”.

“Baik Non,” pak supir pun menyetir lebih kencang dari sebelumnya sambil gerutu dalam hati.

Keterlambatan mereka dikarenakan sang Nona mandi susu terlampau lama, tambahan jarak antara Jakarta-Bandung tak bisa dibilang dekat. Meskipun si supir, Pak Supa’at, juga tak bisa di bela lantaran sang Nona.. Wiandra Devi, seringkali menangkap basah matanya, tengah mencuri-curi lihat kaki jenjangnya yang putih indah ketika mendek (bercelana pendek). Ia akui memang kalau dirinya exibisionis (pamer diri). Bagi-nya, adalah suatu kebanggaan bisa buat pria memandang nafsu bagian-bagian tubuhnya.  Tapi khusus kali ini ia tidak mentolerir. Acara-nya penting, berangkat syuting film layar lebar, jadi ia tak mau tahu. Lihat boleh tapi nyetir jangan lambat, begitu maksud Wiandra. Namun karena maksud itu tersirat bukan tersurat, Pak Supa’at malah jadi keasyikan oleh tontonan memanjakan matanya tersebut.

‘Mubajir.. habis ini tinggal cari sabun sama WC, pelototin terus bleh! mumpung gratis!’ pesan setan berbisik di telinga kiri Pak Supa’at.

Ckiiitt!! “sudah tiba kita Non”. “Huhh…jangan kayak keong gini lagi ya Pak, nyetirnya!” kata Wiandra ketus lalu menutup pintu mobil dengan keras. Pak Supa’at kesal bukan main dalam hati.

(Ndak sopan nih anak!! Mentang-mentang kaya.. cantik, nanti ta’ isi kontol mulut comel sampeyan!), Pak Supa’at membatin. Situs Togel Online Terpercaya


“Oo, jadi Non main di film jadi pengganti bintang porno Jepang itu toh. Siapa ya Non namanya? Bapak lupa,”.

“Maria Ozawa atau Miyabi dikenalnya. Naah, namaku kalau film udah beredar en ngetop nanti, jadi.. Wiandraa.. Devi.. Ozawa deh,” Wiandra ber-bangga diri.

“selamat ya Non, mudah-mudahan sukses!”.

“Pasti sukses dong!” kata Wiandra lagi penuh percaya diri. Pak Supa’at senyam-senyum, tapi dalam hati makin anti dengan perangai Nona majikan-nya yang pemarah dan angkuh tersebut.

Sebelum ini, dia sebenarnya supir kedua orang tua Wiandra. Namun setelah Wiandra dapat kesempatan main film yang entah dari mana jalurnya, sering pulang pagi-pagi buta Jakarta-Bandung bawa mobil sendiri, orang tuanya pun khawatir. Lantas mengeluarkan kebijakan kalau dia jadi supir pribadi Wiandra, antar jemput seluruh aktivitasnya. Pak Supa’at senang pada awalnya, apalagi Wiandra cantik luar biasa, hobby sumbang acara pamer paha pula, sempurna. Sayang Wiandra persis Agnes Monica, ketika tenar terkenal.. memekar sifat buruknya.


-# ###############

* Nasty Teaser I *


Terbawa peran, kenakalan Wiandra menjadi. Pakaiannya makin kurang benang, makin sedap untuk dipandang. Pak Supa’at yang lagi siul-siul dan bersenandung lagu dangdut sambil cuci mobil, berhenti seketika lihat Wiandra keluar dari ruang depan dengan pakaian minim kain. Kaus tanpa lengan, di lapis sweater hitam dipadu hot pants. Wiandra duduk di bangku taman persis samping Pak Supa’at dengan aktivitasnya. Dari kantung sweater diraihnya sesuatu yang rupanya permen kojek, dihisap-hisapnya permen itu dengan gaya nakal. Mata Pak Supa’at jadi hobi main sein (lampu kode belok mobil atau motor). Larak-lirik kiri dan kanan sesuai posisi cuci mobil yang berubah-ubah tetapi satu arah. Wiandra pun makin tertarik untuk berbuat nakhal lebih jauh, apalagi suasana rumah sepi mendukung. Ia dekati Pak Supa’at yang tangannya gemetar pegang selang lantaran tahu di hampiri olehnya.


“Pak, ‘srot!!’ Awh..!” tanpa sengaja Wiandra tersiram air karena Pak Supa’at yang grogi langsung menoleh dipanggil dimana air menyemprot kencang.

“Ma-maaf.. maaf Non, gak sengaja Bapak! Non ngagetin sih..”, kata Pak Supa’at tak mau disalahi, takut dimarahi dan di bentak habis-habisan.

Wiandra kesal sebenarnya, make up luntur, pakaian basah, TP gagal pula, tapi ia tidak mau berhenti. Malah dengan kondisinya sekarang ia lihat dirinya kian seksi. Kausnya menceplak Bra, terus turun ke perut ratanya sampai Hot pants yang menceplak fisik vagina karena tidak mengenakan CD di dalamnya.

Kekesalan Wiandra tumpahkan pada niatan membuat mupeng Pak Supa’at habis-habisan. “Ya sudahlah, kan nggak sengaja. Sini Pak…!” Wiandra menarik tangan Pak Supa’at, di ajaknya ke taman tempat ia duduk pertama tadi.

Wiandra kembali duduk di bangku tadi dan Pak Supa’at disuruh berdiri dihadapannya persis. “Aku lagi belajar acting jadi wanita penggoda nih.. Bapak bantu aku ya?!” kata Wiandra digema-i nada memaksa.

“Ban-bantu.. bantu bagaimana Non?” Pak Supa’at mulai gelagapan lihat Wiandra memainkan permen kojek dengan gerak lidah nakal, ditambah rasa tak enak buat pakaian basah.

Belum sempat di jawab, Wiandra naik ke atas bangku taman, berdiri. Sehingga lekuk dan belahan kewanitaan dapat dilihat Pak Supa’at dengan amat sangat jelas. Pinggul Wiandra melenggak-lenggok kiri kanan, mata Pak Supa’at ikut seperti di hipnotis sebuah bandul saja. Wiandra tersenyum dengan permen di kulum. Ia lalu melepas sweater hitam serta kaus tanpa lengan abu-abunya yang basah. Sebelum di lempar, kedua benda itu diputar-putar sepeti koboi memutar tali laso. Sambil itu juga, Wiandra memutar tubuh perlahan 360 derajat se-arah jarum jam, disertai lenggak-lenggok pinggul layaknya striper. Setelah kembali bertemu muka, baru sweater dan kaus dicampakkan ke hijau rerumputan taman.


Wiandra kemudian merunduk dan menarik turun sedikit Bra tipis seksi warna hitamnya, pameri gunung kembarnya yang tidak terlalu montok namun putih. Kontan saja mata Pak Supa’at menyorot ke area tersebut, sampai-sampai sulit menelan ludah, apalagi jika dia ingat warna puting yang berwarna pink, ekspresi wajah Pak Supa’at persis ekspresi orang sinting. Belum lagi di tambah posisi Wiandra nungging, tentu gerah jadi bertambah. ‘Tombak’nya tidak tahan ingin ‘menikam’ makhluk seksi dihadapannya itu dari belakang hingga menjerit nikmat banyak-banyak. Tahu Pak Supa’at mupeng berat, Wiandra berputar hingga ia nungging persis membelakangi. Orang bilang, memantati orang tua itu tidak sopan. Tapi kalau kondisinya seperti sekarang ini, dipantati oleh gadis cantik seksi macam Wiandra ‘Ozawa’ Devi, bagi Pak Supa’at tak jadi masalah sama sekali. Malah kalau bisa setiap hari. Andai Wiandra bukan majikan sendiri, Pak Supa’at sudah langsung membenami wajah di selangkangan dari belakang itu. Nafas Pak Supa’at dirasa Wiandra makin berat, menderu-deru penuh nafsu. Menerpa kewanitaan yang terbalut hot pants. Wiandra melihat wajah mupeng Pak Supa’at kian lama kian mendekat, lama-lama mungkin bisa nekat. Pak Supa’at pikir paling di omeli atau di bentak, yang penting berhasil mencium wangi vagina impiannya.


Iklan Sponsor :



“Uum…” Pak Supa’at memajukan mulut, hendak mensosor meki Wiandra.

“Eits!” Wiandra mengelak, lantas berdiri tegak “Bapak mau apa hayoo…? lihat boleh pegang jangan, nanti aku bilangin Papi loh!” ancam Wiandra.

Pak Supa’at cemas, “maaf Non maaf.. Bapak kelepasan… habis Non ini sudah cantik, seksi lagi. Mana ada laki-laki yang tahan di goda sama Non seperti barusan?”.

Wiandra diam-diam senang di puji, meski masih memasang muka galak. Ia jadi urung niat ingin marah lebih jauh. “ya udah.. ya nggak apa-apa juga sih… kan gara-gara aku juga, Ngg… berarti acting-ku..berhasil kah?” ujar Wiandra seolah polos. Padahal tiada niatan acting, memang hanya ingin menggoda.

“Naah, kalau gitu aku lanjutin ya Pak,” Pak Supa’at langsung, (Hah! diterusin?!) dalam hatinya. Dari sini-lah dia tahu bahwa Wiandra memang hanya ingin menggoda, bukan acting seperti yang dikatakannya.

Dengan gerak perlahan seksi, Wiandra kembali menggoyang pinggul. Permen kojek di tangan digeseknya ke bibir kemaluan yang masih terbalut Hot pants, sambil mengemut jari telunjuk tangan satunya. “Mm… eMhh…” Wiandra Devi beraksi layaknya Miyabi, memainkan permen seolah penis pada vegi.


Disodori permen itu ke mulut Pak Supa’at. Supir Wiandra itu tidak begitu faham tapi konak, jadi dia ikuti saja permainan. Permen itu kemudian ditarik keluar Wiandra dari mulut Pak Supa’at, di emutnya sebentar dan dilempar sembarang. cerpensex.com Berikutnya, Wiandra menarik ke samping tali Bra-nya kiri dan kanan. Tidak sampai lepas, tapi cukup membuat cup Bra turun sedikit. Bagian atas payudara pun ditatapi Pak Supa’at nanar. Wiandra semakin lacur, ia selipkan jari ke pinggiran Hot pants kanan dan kiri seakan ingin ditarik turun, buat Pak Supa’at melotot muka kepengen ngentot. Pak Supa’at konak bukan main, dia meliur, dalam hatinya (Bugil! bugil! ayo telanjang! ta’ ewek’i nanti sampai jalan sampeyan ngesot!) begitu kira-kira. Hot pants putih Wiandra tertarik turun sedikit demi sedikit. Perlahan terus mendekati vagina bagian atas, namun “Oh iya… lupa, ada perlu!” kata Wiandra tiba-tiba. Dikenakannya kembali seluruh pakaian, Pak Supa’at duduk jatuh di rerumputan. Sudah di bayang-bayangkan Wiandra telanjang, ternyata ‘edyan!’ Pak Supa’at kesal dalam hati, hanya bisa gigit jari.


* Sleeping Bitchy I *


Setelah Wiandra masuk ke dalam, Pak Supa’at juga cepat-cepat balik ke kamar mau onani. Dasar sial, Wiandra ke dalam rupanya hanya ganti pakaian dan make up-an untuk ber-siap jalan. Sedang asyik Pak Supa’at mengocok penis, pintu kamarnya diketuk, Dok! dok! dok!. “Paak, jalan yuk! aku ada perlu nih,”.

“iya Non, sebentaar…” (aduh, emang dasar ini hari apes!) batin Pak Supa’at, lihat batang penisnya hanya lecet tak raih ejakulasi.

Ceklek!, Pak Supa’at mematung lihat Wiandra sudah rapi nan seksi, “mau kemana Non?” tanyanya seraya menahan konak.

“ada janjian sama teman mau ketemuan di Palm Residence… yuk Pak!”.

“Baik Non, tapi rumah sepi Mbok Parmi belum pulang belanja.. ‘gak apa-apa?,”.

“nggak apa-apa lah.. khan udah tahu tempat nyembunyiin kunci di bawah keset ini.”.

“O, ya sudah kalau begitu.. mobil kebetulan sudah Bapak panasi tadi sebelum cuci, jadi bisa langsung berangkat.”.

“Yuk, cepat!” dengan agresif, Wiandra menarik tangan Pak Supa’at, (mulus banget tangan cewek zaman sekarang.. cantik pula!), Pak Supa’at membatin ngeres.

Semua ini ternyata masih akal-akalan Wiandra untuk mengerjai supir pribadinya tersebut. Sampai di lokasi, Wiandra minta Pak Supa’at untuk parkir mobil di pojokkan yang sepi.

“Huaah, nyam nyam… Pak, aku disuruh nunggu disini aja jadi nggak usah masuk ke dalam. Katanya nanti temanku yang kesini.. aku mau tiduran dulu, nanti bangunin ya misalkan ada dia kesini! Dia tahu kok mobil kita…” ujar Wiandra sambil melihat Hp, seolah suruhan tadi adalah isi sms dari temannya, padahal karangan buah pikiran.


HP juga sengaja Wiandra matikan, jadi tidak akan ada suara mengusik. Mesin mobil tetap menyala, AC, juga R&B di tape yang di kecilkan volume suaranya. Sesudah itu, Wiandra mengangkat kedua kaki ke dash board mobil, pura-pura tertidur lelap. Lihat Wiandra nyenyak, Pak Supa’at menjalani hobi, matanya ‘menyantap’ Wiandra dari rambut sampai kuku kaki yang ter-cat hitam. Pak Supa’at memandangi wajah Wiandra yang sangat macan (manis & cantik) terus-menerus, tiada jemu. Ia berandai-andai Nona-nya itu jadi pengganti Istri-nya yang sudah ‘kadaluarsa’ ibarat makanan minuman ber-pengawet. Pasti nafsu birahi dapat tersalur rutin setiap saat setiap waktu, akan rajin buang peju. Kaki putih jenjang Wiandra jadi menu utama mata, Pak Supa’at sudah ngiler sangat melihatnya. Memang bukan baru sekali Wiandra pamer seperti ini, tapi kali ini jauh lebih seksi baik itu pakaian maupun gaya. Kaki Wiandra yang di atas dash board saling menumpang, kepala dan pinggulnya sedikit miring ke samping. Dengan long dress bawahan mini, paha bagian atas sampai ke pantat pun dapat terlihat.

(Putih bener.. mulus lagi, brrr!), batin Pak Supa’at. Dia tatap nafsu paha Wiandra, kali ini ada pikiran nekat ingin menyentuh walau hanya sedikit.


“Non..! Non!” Pak Supa’at mengetes agar yakin jikalau Wiandra memang tertidur pulas. Padahal jika dipikir, belum lama di taman rumah melakukan tarian seksi, masa kan sekarang sudah tidur.

“Non!” Pak Supa’at sekali lagi menjalani-test, hanya yang kedua ini sengaja sambil menggoyang paha Wiandra, sekalian ngelus maksudnya.

(Halus.. muluss…), komentar Pak Supa’at dalam hati ketika sukses mendaratkan telapak tangan di paha. Lihat reaksi Wiandra nol, Pak Supa’at lanjut mengelus.

Serr..! darah berdesir dirasa Wiandra. Belaian telapak tangan kasar Pak Supa’at ber-sensasi beda dengan pemuda-pemuda tampan yang pernah dikencaninya. Terasa lebih geli dan cepat buatnya terangsang. Pak Supa’at ketagihan, elusannya makin lama semakin lancang. Dia geser bawahan guna mengintip ke dalam, berhasil! Wiandra pakai CD putih tipis rupanya sekarang. Diam-diam Wiandra horny juga merasakan situasi mesum seperti ini. Untuk mendalami karakter, Wiandra dituntut sang sutradara agar mempelajari semua hal tentang Miyabi. Terpaksalah dia menonton semua film Maria Ozawa, alhasil… Wiandra yang memang juga sudah tidak asing dengan seks, jadi semakin liar. Gairah Wiandra malah memuncak dipandangi dalaman-nya oleh Pak Supa’at. Ia tiba-tiba bergerak meregang tapi mata tetap terpejam, Pak Supa’at kaget menarik tangan yang tadi asyik berpetualang paha. Badan Wiandra berubah haluan ke samping, tepat menghadap Pak Supa’at. Gila-nya, Wiandra menaikkan kaki kanan ke atas pundak kiri Pak Supa’at, lalu menumpangkan kaki kiri ke setir dekat klakson. Jadi kini Wiandra mengangkang persis dihadapan Pak Supa’at yang duduk gemetar. Celana dalam tidak usah diintip lagi, kali ini jelas sangat terlihat oleh mata. Malah karena kaki kiri Wiandra sempat menekan klakson, Pak Supa’at terpaksa mencengkram pergelangan kakinya. Kaki kanan yang sengaja juga di jatuhi Wiandra ke sisi lengan, buat Pak Supa’at tidak punya pilihan selain sigap menangkap agar betis Wiandra tidak mendarat di atas rem tangan yang bisa buatnya sakit. Tapi dengan begini, Pak Supa’at jadi seperti ingin berniat mesum pada Wiandra. Bagaimana jika Wiandra tiba-tiba bangun? Gawat kuadrat!! bisa-bisa pulang kampung…?! Tapi mengingat sikon (situasi dan kondisi) seperti ini jarang-jarang, Pak Supa’at bermaksud sekalian. Jadi sambil membenarkan kembali posisi tidur duduk Wiandra, sekalian intip kancut dan raba paha pikirnya teringat kata pepatah sambil menyelam minum air. Tapi karena minum air-nya lebih nikmat ketimbang menyelamnya, dia jadi asyik minum terus sampai kembung. Mata bandot itu menjorok ingin keluar dari tempatnya, telapak tangannya berulang kali mengelus kemulusan kulit betis.


Dalam tidur bikinannya, Wiandra tengah menahan gairah yang menggelora. Apalagi tua bangka itu kian menjadi, di ciumi betis mahasiswi miliknya bertubi-tubi. (Betis orang kaya emang beda), komentar Pak Supa’at dalam hati, rasa penasarannya terbayar sudah. Sedari dulu dia ingin raba dan cium. Ciuman mesum itu menjalar ke paha, Wiandra mulai di buai gelisah. Senjata makan Nona, ia bimbang, kalau ia pergoki sekarang, nikmat cumbuan akan usai. Kalau di lanjut, takut Pak Supa’at lupa diri. Tapi karena nafsu yang menang, Wiandra condong Pak Supa’at terus. Pak Supa’at pun bernafsu, ia rentang kedua kaki Wiandra hingga lebar mengangkang. Paha bagian bawah jadi sasaran empuk mulut dan lidah, kaki kiri dituruni perlahan di papah di paha. Lalu Wiandra mendengar suara reseleting di tarik turun, pikirnya.. apakah Pak Supa’at akan nekat menyetubuhi?. Ia buka mata sedikit mengintip. Tidak!!!, ternyata Pak Supa’at hanya onani sambil terus menjilati paha.

(eMhh…), Wiandra menggigit bibir bawah, menahan geli cumbuan yang murni kelewat batas.

Kewanitaannya yang masih terbalut CD putih tipis di jilati dengan perlahan dan hati-hati. CD pun basah, menceplak fisik memek di dalamnya, ekspresi wajah Pak Supa’at mupeng berat. Rambut kemaluan Wiandra juga jadi terlihat jelas. Wiandra berusaha meminimasi geliatan akibat jilatan dan geli gesekan kumis di bibir kemaluan. Pak Supa’at mengocok cepat sekali sambil menatap nanar kewanitaan Wiandra yang tembus pandang CD dekat-dekat. Hidungnya dilekatkan untuk menghirup dalam-dalam harumnya vagina Wiandra bagai menghirup udara segar pagi.

“Oookhh *Croot!* Ookh *Crot!* ugh!,” Pak Supa’at semprotkan spermanya di sekitar kaki Wiandra. Betis.. paha.. lutut, ujung bawahan long dress sampai celana dalam terkena cipratan mani.

(Shit!! di peju-in kaki gw… tapi…… it’s ok, sih.. hehh), dalam hati Wiandra.

Ia merasakan keanehan pada tubuhnya semenjak banyak nonton film Miyabi. Mestinya dengan kondisi sekarang ini sangat menjijikan. Sperma berceceran di sekujur bagian bawah tubuh, tetapi Wiandra malah merasa seksi sekaligus horny, hal yang tak biasa. Pak Supa’at cekatan mengambil tissue yang tersedia di mobil. Dia sapu bersih jejak-jejak bukti sejarah mesumnya, lalu dia kembalikan lagi kaki Wiandra ke yang seharusnya dan betuli letak duduknya.


Sesuatu yang tidak dinyana ada, “Pak, ngapain..?,” mata Wiandra terbuka bulat lebar tiba-tiba.

“anu.. anu-anu.. anuu…” Pak Supa’at gelagapan tak bisa menjawab.

Wiandra yang memang hanya ingin mengerjai Pak Supa’at, meregang, seakan baru bangun setengah sadar, “Emp! Huahh… kaki-ku lagi tidur kemana-mana ya Pak?” perkataan Wiandra buat Pak Supa’at lega, sambil ia kembali melurusi duduk-nya.

“i-iya.. iya Non benar… tadi mau nendang Bapak sama hampir nekan klakson!” akal Pak Supa’at bulus.

“Oow… ya sudah, ini temanku nggak jadi mungkin. Kita pulang aja deh Pak!”.

“Baik Non,” pikir Pak Supa’at, untung betul jalan jauh-jauh tidak disuruh nunggu lain kegiatan, eh malah berhasil buang peju di kaki jenjang kesukaan.

Baru hendak memasukkan gigi 1, Pak Supa’at dibuat kaget kembali “kok.. kaki Wiandra kayak lengket ya Pak..? Kenapa yah?,” kata Wiandra seraya menatap tajam, Pak Supa’at jadi grogi lagi. “a..apa ya Non.. Bapak… Bapak kurang tahu juga, haha”.

“Apa tadi Bapak beli minuman terus neretes di kaki aku kali ya?” Wiandra memberi solusi.

“iya..iya Non… betul tadi maaf ya nggak sengaja!” sahut Pak Supa’at merasa untung di kasih pertanyaan sekaligus contekan untuk kedua kali. Keberuntungan yang langka.

“lain kali hati-hati ya Pak, apalagi kalau kena baju buat syuting aku.. mana bau lagi!” kata Wiandra mencium jarinya yang tadi sengaja di oles ke bekas le-lengketan mani.

“Iya Non, maaf yah… lain kali Bapak hati-hati,” jawab Pak Supa’at, (emangnya gw bego! nggak tahu ini peju lu!), Wiandra membatin dalam hati.

Dengan perasaan lega Pak Supa’at mengantar Wiandra pulang ke rumah, ia berpikir kalau ada kesempatan ingin mencobanya lagi.


##########################

Selang Beberapa Hari…


Cerpen Sex 13 Cara Menjadi Budak Setan Perantara PSK

Tok! tok! tok!, “Pak Supa’at..!! antar aku dong!,”.

Ceklek!!. Pintu membuka, Pak Supa’at terkesima oleh penampilan modis Wiandra, modis ala anak kuliahan yang seksi. Kaus tanpa lengan di lapis jaket jeans biru tanpa lengan juga, rok jeans mini biru jauh di atas lutut dan menjinjing tas gembol.

“Mau kuliah Non?”.

“Iya Pak, habis itu ke tempat teman aku waktu itu ya!,” kejantanan Pak Supa’at mengacung keras ingat kejadian belum lama itu. Apalagi khayalkan Wiandra dengan pakaiannya kini yang tak kalah seksi.

“Bapak ngelamun jorok apa sih?” tanya Wiandra, menatap tegas sarung yang menonjol jelas.

“Nggak kok Non..biasa ini… laki-laki emang begini kalau pagi. Dingiin e-hehehe” jawab Pak Supa’at sembari meluruskan ‘otong’ ke jalan yang benar.

“Ya udah, cepat ganti baju Pak!”.

“baik Non, mobil sih sudah panas habis antar Nyonya arisan tadi,” terang Pak Supa’at yang tidak diperdulikan Wiandra.

Sesekali, keangkuhan Nona-nya itu kerap kali timbul, Pak Supa’at makin lama makin terbiasa menanggapinya, meski kadang kesal juga. Tetapi tak mengapa, asal disuguhi pemandangan paha, pikirnya.


#############################

* Sleeping Bitchy II *

Jam kuliah berakhir… 


Pak Supa’at dan Wiandra menuju lokasi berikutnya. Dan seperti biasa, mata Pak Supa’at jelalatan lihat paha Wiandra. Sepanjang jalan, matanya sering oper sein kiri, tentu Wiandra mengetahui. Seperti biasa juga, Wiandra buang muka mengumpani diri. Tiba di tujuan, mobil masuk ke parkiran luas Residence. Banyak mobil terparkir tetapi lenggang, sepi, cocok untuk berbuat mesum. Wiandra menekan nomor di HP-nya seperti hendak menghubungi seseorang lalu dilekatkannya ke telinga, “Eh, jadi kan… aku di parkiran nih? Iya, iya… aku udah seperti yang kamu minta ini, jangan pakai celana dalam kan?.” Duag!!, kepala Pak Supa’at serasa di hantam sebongkah batu besar. (Pengeen… kepengen jilat nonok-mu itu Noon), batin supir tua itu ngeres dalam hati.

“Ok, aku tunggu ya!.” Flip!, Wiandra menutup sekaligus mematikan HP seperti biasa, rencana tahap II di mulai.

“Pak, biasa.. kalau aku ketiduran ada bunyi miscall atau apa.. bangunin aja ya!,”

“baik Non!.” Pak Supa’at menahan konak setengah mati, sudah sangat ingin nonton langsung meki. (Ndak sudi aku bangunin!), dalam hatinya berlawanan.

Pucuk dicinta ulam tiba. Wiandra tidur memiringkan tubuh, mengangkat kedua kaki dan beri jarak lebar diantaranya. Heeggh!! Pak Supa’at langsung melotot dengan nafas sesak. Trek! tek! tek! tek! tek!. Giginya terantuk-antuk seolah berada di daerah dingin ber-salju. Jari tangannya yang gemetar seperti orang stroke itu bergerak ingin sentuh memek di depan mukanya. Dia lupa satu hal saking mupeng-nya, yakni memastikan keadaan Wiandra betul-betul terlelap. Andaikata Wiandra tak berniat menggoda, sudah barang tentu ia akan bangun dari tidurnya. Jemari Pak Supa’at hampir mengena-i kewanitaan, bergerak perlahan seperti ingin menyentuh bunda pusaka. Tentu moment ini langka baginya, dapat kesempatan jadi supir bisa dekat terus Wiandra saja anugerah, apalagi bisa lihat, raba atau emut vagina-nya… ‘anukugerah’. sampai juga jari Pak Supa’at di kewanitaan, Tap!

“emhh” Wiandra tak kuasa membelenggu desah kenikmatan, Pak Supa’at kaget, refleks menarik balik jari.

Wiandra merasa serba salah, tak ingin Pak Supa’at tahu kalau ia sadar, namun juga tak ingin Pak Supa’at berhenti. Akal Wiandra berjalan,

“Terus Wesley, kenapa berhenti?,” Wiandra ber-akting mengigau,

Pak Supa’at tersenyum penuh cabul. Ia pikir bahwa Wiandra tengah mimpi berbuat dengan pacarnya, nama Wesley memang tidak asing di keluarga sebagai pacar masa SMA Wiandra. Merasa dapat angin, dia lanjut aksi mesum dengan melebari kangkangan Wiandra dan meraba ulang daerah paling terlarang.


Iklan Sponsor :


“Agh’! Ssh…” Pak Supa’at menancapkan satu buku-buku jari tengah ke liang vagina, buat Wiandra berdesis dan menggeliat nikmat. Ploph!, di cabut dan di lekatkan ke hidung jari mesum itu, “Hemmmhhh… wangii rek!! wangiiiiiiiiiii!!!,” komentarnya dengan senyum gila di wajah, dia celupi kembali jari beruntungnya ke liang vagina Wiandra. “Iyah-Hahh.. eMh!” dasar supir muka meki, dia tusuk hingga menancap seluruh jari, jelas Wiandra kaget setengah mati dan memekik bernada tinggi.

Wiandra hampir membuka mata, namun karena kadung ‘basah’, baik keadaan maupun vagina, ia lanjut pelecehan diri. Seringai Pak Supa’at kian melebar dirasa jari-nya terjepit liang yang begitu sempit. Sempit legit, ingin tarik jari pun sulit. Penis kian keras konak, berontak dalam sempak bayangi bagaimana jika ‘Dia!’ yang terjepit disana. Pastilah nikhmat sangat…

PLOPH!!, “ANGGH…!!” Wiandra tak kuasa menahan kerasnya erangan lantaran Pak Supa’at memaksa cabut jari keseluruhan. Bandot tua itu cengar-cengir mesum lihat jarinya mengkilap oleh jus cinta vagina. “Em, nyam-nyam…Whuaa, enak enak..manis! Hak hak haak” komentarnya setelah mencicip rasa lendir vegi yang lekat di jari.

“lagi Aah hihihi” sambil berceloteh, sambil dia celupi lagi jari ke vagina Wiandra. Crep!, “eM.aAhh…” kaki Wiandra mengapit tangan Pak Supa’at meski telah kebobolan oleh jarinya. Kali ini Pak Supa’at tak berniat mencabut, tapi malah ingin mengobok sampai vagina banjir lendir.Cerpen Sex

“Ah.Ahh…Iahhh…”, Wiandra mendesah-desah tak karuan, kakinya bergerak serabutan gara-gara di obok sembarang.

Pak Supa’at ketawa-tawa geli gila. Dia yakin betul kalau tidur Wiandra hanya dusta belaka. Sebagai pria berumur yang punya anak istri, pengalaman seks jauh di atas angin, Wiandra ibarat anak rusa dalam terkaman se-ekor macan besar saja, menanti di lumat habis. Pak Supa’at menyangga kaki Wiandra agar tak bisa rapat dan dia dapat melihat nonok Nona-nya itu dari jarak dekat.  Sambil tertawa, Pak Supa’at kobok liang dengan gerak cepat, Wiandra coba bertahan dalam actingnya. Ia siksa diri dengan derita birahi. “Hayooh!”, *clek-clek-clek-clek*, “hayoh!”, *clek-clek-clek-clek* Pak Supa’at memberi semangat agar Wiandra jujur, bunyi kecipak karena vagina becek keluar liur. Punggung Wiandra menekuk, ia mendesah sembunyi dalam kemunafikan.


“aAhh… aAhh… m.Anghhh…”, Wiandra sudah tak tahan untuk buka mulut lebar-lebar dan mengerang keras lantang. Pak Supa’at makin gemas menusukkan jarinya dalam-dalam “Hunggh!!”, *Crep-Crep-Crep*, “Huungh!!”, *Crep-Crep-Crep*. Dia ingin paksa Wiandra agar menyerah dari actingnya. Wiandra tetap teguh berpendirian, meski mulut membuka lebar desahan keras berulang, matanya masih setia terpejam. Untuk meredam suara, tangannya terpaksa menutup mulut. Posisinya sudah sama sekali tidak mungkin dibilang tidur. Tangan Wiandra satunya malah ingin menahan aksi mesum jari, namun cekatan di tepis supirnya yang bakat cabul itu seraya tertawa menang. Wiandra Sang dara tak tahan lagi, ia putus asa. Tangannya di tepis berulang sama sekali tak membuahkan hasil, dipegangi hanya bisa cakar dan kepal jari, tak dapat menjangkau ulah mesum jari.

“EHH… EMH… UM..AHH… AAHHH…………

Wiandra lama terdiam beberapa detik, lalu matanya tiba-tiba membuka sayu dan menjerit orgasme histeris “IYAAH!!” Crrt..crt..crt! pinggulnya melayang tinggi dari jok terhentak-hentak nikmat. Pak Supa’at menyeringai lebar-lebar, sengaja dia tanam dalam jari, senang bukan kepalang dia. Sambil menikmati kecritan cairan cinta, dia putar jari tertanamnya seperti sebuah obeng pada baut, Wiandra menggeliat-geliat keenakan.

“Shrrpp!! Shrrrrppp…Aah…… uena’e meme’mu Noon! Ramuan awet muda iki hihihihi. Shrrrrrrrrrrrrrrrppp!!!” selesai komentar, Pak Supa’at menyeruput seluruh cairan yang di produksi vagina hingga habis tak bersisa setetes jua. Semua yang ada di jari, pergelangan tangan, vegi, semua dia jilati bagai maniak seks gila memeks. Nikmat orgasme Wiandra pun jadi lebih lama lantaran Pak Supa’at tidak berhenti menjilati vagina. Dirasa Wiandra, perlakuan seks supirnya tersebut sungguh berbeda dengan para pria yang pernah menggaulinya. Pemuda-pemuda tampan hanya nafsu di awal saja, tapi di belakang loyo. Keinginan untuk menikmati pun tidak sebuasnya. Wiandra terasa seperti diburu jika dengan dia, Pak Supa’at. Sayang statusnya kacung, tuir pula, mustahil-lah jadi gebetan. Melihat nafas Wiandra kembali teratur, Pak Supa’at celingak-celinguk kiri kanan memastikan keadaan parkiran masih aman, lalu dia menarik kait reseleting celana. Sreet! “Pak, apa-apaan?” tiba-tiba Wiandra membuka mata dengan wajah marah. Pak Supa’at membatu bingung, jarinya masih lekat di reseleting, sama sekali tak berucap kata. Wiandra merapihi pakaian yang sempat acak dan cari posisi duduk nyaman dulu untuk bicara.


“Ketahuan yaa.. Bapak mau perkosa aku. Nanti aku bilangin Papi loh!,” tegur Wiandra lagi.

Pak Supa’at tidak paham maksud Wiandra, sebab dia yakin benar kalau Nona-nya itu berpura-pura. Maksud Pak Supa’at, sudah jangan muna.. sama-sama nikmati saja.. Tapi tidak demikian maksud Wiandra, niatan-nya hanya ingin enak sepihak.

“anu,”.

“Anu apa?! Bapak niat mesum khan?!” potong Wiandra membentak.

“Bapak kira si Non tadi memang ‘ndak tidur hehe” sahut Pak Supa’at dengan cengiran khas pria cabul, berharap Nona-nya itu mau beri kesempatan unjuk kejantanan.

Wajah cantik Wiandra yang berkulit putih sempat terlihat merona merah malu, imbas dari sahutan Pak Supa’at, namun segera ditampiknya. “Nggaklah.. ‘gak mungkin! aku lagi tidur gitu… Bapak aja yang mau cari kesempatan! Itu apa..buka celana?” Wiandra tak mau kalah, Pak Supa’at terpaksa mengalah.

“ya sudah Non, maafin Bapak… tolong Bapak jangan dipecat, kasihan Istri di kampung!” Wiandra luluh akan itu, apalagi memang benar ia berpura-pura.

“Ya udah-lah… buat apa juga, nanti repot harus cari supir lagi. Lupakan saja masalah ini Pak… kita pulang aja yuk!,”.

“baik Non.” Pak Supa’at kecewa berat, dia masih yakin dengan apa yang dia lihat. Tambahan Wiandra sama sekali tidak membahas tentang temannya yang ingin bertemu di tempat ini. Jelas jika ia berbohong dan hanya ingin mempermainkan, tiada niat setubuhan. Amarah terjadi tadi juga pasti hanya karena tahu ingin disetubuhi, amarah palsu, bikinan. Kesimpulannya… Wiandra ingin dibuat orgasme, tapi enggan balas memberi.


##########################

* Nasty Teaser II *


Cerpen Sex 13 Cara Menjadi Budak Setan Perantara PSK

Jera…itulah yang dirasa Pak Supa’at. Dia memang merasa beruntung dapat kesempatan lihat.. pegang.. cium, bahkan mengobok kewanitaan Nona majikannya, Wiandra. Tapi… untuk apa jika ujung-ujungnya tak bisa dicelup, hanya buat berang si ‘Ucup’. Dalam beberapa kesempatan, Wiandra mengulangi aktivitas nakalnya itu. ‘Cukup sekali!’ tegas Pak Supa’at dalam hati, dia anti dipermainkan kembali. Bahkan hobi melirik paha pun tak dia lakoni. Baru kali ini Wiandra dapat penolakan dari makhluk ber-titid alias lelaki, apalagi oleh supirnya sendiri. Ia tahu benar perubahan Pak Supa’at, supirnya, dikarenakan masalah tempo hari. Tapi Wiandra tak kehabisan akal untuk tetap dapat mengerjai, bukan Wiandra namanya jika tak mampu taklukan lelaki, bukan Wiandra jika tak bisa buat laki-laki bertekuk lutut memohon meki. Sambil Wiandra memikirkan cara seksi bagaimana agar Pak Supa’at tergoda, sambil dia tonton film Miyabi. “Idihh.. freaks!” komentarnya, waktu melihat adegan Maria Ozawa pipis di depan orang banyak, bahkan ada Kakek-kakek melihat dari dekat. Pikiran wajar normal menolak, namun tubuhnya tidak, ia malah terangsang. Hari menjelang sore sepulangnya kuliah dan menonton saat ini, dan Pak Supa’at ada di kebun jam-jam segini. Wiandra merasa sudah dapat cukup ilham untuk bertingkah jalang. Ia kenakan T Shirt milik Kakaknya yang menikah, kerja dan tinggal di U.S. Karena ukurannya besar, baju itu longgar di tubuh. Pundaknya hanya dapat tertutup sebelah, jika kiri tertutup, maka kanan terbuka, begitu sebaliknya. Di balik T Shirt, sengaja Wiandra tidak kenakan apa-apa, tanpa CD.. juga tanpa bra. Benar adanya, Pak Supa’at dilihat Wiandra tengah memangkas rumput di taman, juga menata bunga milik sang Nyonya, Bunda-nya. “Met sore Pak” sapa Wiandra jalan masuk ke areal taman. “Selamat sore…Non…” Pak Supa’at sempat terpancing melihat nafsu Wiandra yang tampil sederhana tapi seksi. Cepat-cepat dia buang muka agar terjaga iman, meski telat si ‘amin’ telah siuman. Wiandra tersenyum nakhal, ia tahu benar kacungnya itu hanya modal iman menahan nafsu. Modal iman kecil nafsu amin besar.

“Rumput liarnya banyak ya Pak?” Wiandra bertanya sambil jongkok tepat disamping.

“I, *Glek!* iya Non.” Pak Supa’at kesulitan telan ludah, mestinya mudah. (Ingat anak istri.. ingat anak istri.. ingat anak istri di kampung!), dia ber-do’a karena vagina Wiandra gratis ‘tuk dipandang.

Kemarin-kemarin jika Wiandra menggoda di mobil, dia bisa keluar alasan mau merokok. Tapi kali ini tidak sebebas itu. Memang bisa pergi, namun tidak sopan terhadap majikan jika demikian. Keadaan memang di atur Wiandra sengaja seperti ini.Cerpen Sex

HP Wiandra berdering, yang rupanya hanya alarm yang di set “Bagus ya Pak, lagunya…” ujar Wiandra dengan senyum menggoda, jarinya memuntir-muntir ujung rambut gaya TePe cewek.

“Dulu waktu SMA ini lagu jadi pengiring buat aku Cheers,” jelas Wiandra yang menurut Pak Supa’at tidak perlu, karena hanya akan meninggikan syahwatnya saja. “aku kan dulu cheers Pak!” tambah Wiandra lagi, Pak Supa’at tambahan konak ingat dia pernah iri pada supir Wiandra dulu (sudah di-out karena tidak jujur masalah uang bensin) sering meledek ketika mau antar Wiandra sekolah pakai pakaian cheers yang sangat mini dan seksi.


“Niih lagunya.. aku kerasin yah!.” Wiandra membesari volume suara HP hingga lagu ‘Around the world (Sha la la)’ berdentum, dimana ia langsung bergerak ikuti irama.


The kisses of the sun

Were sweet I didn’t blink

I let it in my eyes

Like an exotic dream

Just la la la la la

It goes around the world

Just la la la la la


 

Wiandra bergaya seksi habis-habisan, hidung Pak Supa’at mimisan. Pak Supa’at asyik nonton Wiandra goyang, keterusan pangkas rumput. Sampai-sampai memotong bunga kesayangan milik Mami Wiandra. Wiandra keluarkan gaya dugem andalan, tangannya ke atas, sesekali menyibak bawah baju agar Pak Supa’at dapat melihat organ kewanitaannya. Sedang enak-enak Pak Supa’at menikmati acara memanjakan matanya tersebut, Wiandra berhenti lantas berkacak pinggang,

“Ya ampun.. Bapak gimana sih… itu kan mawar-nya Bunda?!” tegur-nya dengan wajah marah. Ekspresi Pak Supa’at cemas-cemas takut lihat kondisi bunga menggenaskan. “Wuaduh.. matik aku… bagaimana ini Non kalau Nyonya sampai tahu?!”.

“Yaa, Bapak siap-siap angkat koper aja!” jawab Wiandra ringan menakut-nakuti. Wajah Pak Supa’at tambahan seperti orang stress banyak hutangan.

“ya udah… tenang… nanti aku bantu bicara.”

“Sungguh Non? wah… Bapak trimakasih sekali,” Pak Supa’at langsung menciumi tangan Wiandra saking takut di marahi dan di pecat.

Wiandra menjauh karena itu tidak sopan, seharusnya yang muda mencium tangan yang tua,“Udah ah.. nanti dulu! lagi ada syaratnya…”, Wiandra berniat sesuatu, Pak Supa’at langsung (hah.. apa lagi nih?), dari ekspresi wajah-nya.

“Sya..syarat apa toh Non?”.

“Ng…. Bapak harus gendong aku..jalan keliling taman ini dulu!” kata Wiandra seraya mengetuk-ngetuk pipi dengan gaya imut. “Oalaah, kirain apa Non.. cuma itu sih ‘ndak sulit!” sahut Pak Supa’at remeh.

“yakin…? Ok! kalo gitu yuk kita mulai aja.. mumpung Mbok Parmi lagi sibuk nyiapin masakan untuk makan malam di dapur!.” Pak Supa’at lalu jongkok.


“Lho eh, lho kok No, Non…Non?” dia gelagapan, terkejut tahu Wiandra minta gendong bukan gendong kuda seperti pikirannya, tapi malah minta digendong dari depan. Kedua paha naik ke pundak dan pegangan di belakang kepala, jadi vagina persis di depan mata.

“Non..Ba..Ba..Bapak.. Bapak.. jadi nggak ngelihat dong arah jalan kemana,” Pak Supa’at ber-alasan, penisnya salah tingkah.

“Nanti aku yang kasih unjuk jalan, Bapak diam aja.. ikutin apa yang kusuruh! Eits, ingat yach.. punya-ku boleh dilihat tapi gak boleh diapa-apain!” tegas Wiandra galak. “ini apa sih.. kayak sholatnya rajin aja!” Wiandra melempar peci (kopiyah) Pak Supa’at ke rerumputan taman agar dia dapat pegangan mantap ke belakang kepalanya.

Bagi Pak Supa’at, berat tubuh Wiandra tak jadi masalah. Biasa mendongkrak mobil, masa mendongkrak Wiandra yang ringan tidak kuat. Masalahnya adalah dia harus jalan tidak melihat, tapi di depan mata ada memek mahasiswi Nona-nya itu, yang sialnya tidak boleh di emut dan di jilat.

“Ayo Pak!, awas yaa… jangan sampai aku jatuh loh!” tegas Wiandra lagi.

Pak Supa’at ngeceng berat, karena selain vegi dihadapan, telapak tangannya menangkup pantat semlohai (sekal montok aduhai) Wiandra. Jadi sambil jaga Wiandra aman dari jatuh, sambil ‘ngremes-remes’, dan memang dirasa Wiandra remasan Pak Supa’at begitu gemes. Pak Supa’at mulai coba melangkah,

“mundur Pak! jangan maju…” Wiandra protes.

Pak Supa’at hanya bisa ‘Hah! hah! dan hah!’ pada kemauan aneh Nona majikannya yang seksi itu. Mata Pak Supa’at masih terus melotot sambil dia berjalan mundur, “Terus.. terus… awas, balas kanan! Ya bagus.. terus!” Wiandra meng-komando Pak Supa’at seperti naik mobil saja. Ia lihat ada sebongkah batu kecil yang mungkin bisa untuk klimaks godaan, karena jika terlalu lama mereka seperti ini juga takut ada orang rumah atau tetangga yang melihat dan bisa jadi masalah runyam nantinya. Ia juga telah mengira-ngira meski jatuh tidak akan membahayakan mereka berdua. Pak Supa’at menginjak batu itu dan terpeleset, “hati-hati Pak awas!” peringatan Wiandra telat seperti di sengaja. Pak Supa’at sebisa mungkin menjaga Wiandra, biar dia jatuh jadi tameng, “Whuaa…” Brug!!, di belakang Pak Supa’at hanya rumput, jadi kepalanya tidak membentur benda keras atau sesuatu yang bisa fatal.


Face sitting! Istilah sebuah seks, menduduki wajah dengan vagina. Seperti itulah kini Wiandra dan Pak Supa’at.

“Anggh.. Pak… yesssh!,” Pak Supa’at segera ambil inisiatif, yakni menyedot kuat-kuat vagina Wiandra yang lekat di mulut monyong hitamnya.

Mentang-mentang kepala tidak kejeduk, lantas saja maruk, dikeruknya liang vagina Wiandra pakai lidah, dicelup cabut.

Lagi enak-enaknya, “udaah.. Ah! apa sih…?” Wiandra tiba-tiba mendorong kasar kepala Pak Supa’at kemudian menjauh dan berkacak pinggang, “apa? mau cari-cari kesempatan ya!” bentaknya galak dibuat-buat, kemudian pergi dari taman begitu saja masuk ke dalam meninggalkan Pak Supa’at yang masih rebah di rumput dengan wajah bingung. Bingung dengan maksud Wiandra, karena jelas-jelas tadi ke-enakan waktu di jilati vaginanya, juga tak mengelak.

(Haduh… gagal maning-gagal maning mau lanjut sampai ngewek! ngocok lagi- ngocok lagi..!!!), gerutu Pak Supa’at dalam hati.

Pak Supa’at ingin sekali bisa senggamai Nona muda-nya yang seksi nan jelita tersebut. Jika memang terjadi, akan diberi pelajaran memeknya sampai memek belur. Dia kembali ke kamar menuntaskan syahwat yang belum sampai. Tanpa diketahui oleh-nya, Wiandra sendiri sebenarnya juga sama di kamar, ber-masturbasi. Diam-diam… ia sukai jilmek-an yang begitu lapar, ber-awal di mobil beberapa tempo hari yang lalu, hingga kini.


############################

Sluty Officer


Kenakalan yang berujung tak enak bagi Pak Supa’at berlanjut. Wiandra selalu menemui inovasi-inovasi baru dalam menggoda, sial-lah yang jadi kelinci percobaan. Ketika main ke kamar orang tuanya, Wiandra tak sengaja menemukan sebuah topi angkatan laut. Papi-nya memang seorang Nahkoda dari Jepang, bertemu Mami-nya yang Indonesia asli ketika kapal berlabuh di Batam. Kakak-nya yang tinggal di U.S kini, lahir dan besar di Singapore. Wiandra sendiri lahir di Hokkaido, Jepang, tapi karena Mami-nya suka home sick (rindu tanah kelahiran), tak ingin tinggal di Jepang, maka Papi-nya sepakat saja Indonesia jadi rumah utama mereka untuk Wiandra besar disitu kemudian. Papi dan Kakaknya kadang pulang satu bulan sekali, tergantung kesibukan. Topi itu dikenakan Wiandra, lalu dia foto-foto pakai HP sambil bergaya seksi. Selain topi, kebetulan sekali ada borgol-borgolan milik Keponakannya waktu main ke rumah, tertinggal berikut kuncinya. Timbul sebuah ide untuk menggoda. Ia datangi kamar Pak Supa’at yang terletak di bagian belakang rumah, mengingat Mbok Parmi sedang asyik-asyiknya duduk nonton Tv di ruang tamu.

“Ba-pak! Ba-pak!,” panggil Wiandra bernada manja sambil mengetuk pintu, Pak Supa’at yang lagi istirahat santai, dag-dig-dug dengar suara Nona-nya yang indah namun ada niat tersembunyi itu. Cerpen Sex

Ceklek! Krieet…DUAR!! bagai di sambar petir hingga hangus, Pak Supa’at mematung lihat penampilan baru Wiandra. Dengan ini, Wiandra jadi terlihat seperti polwan seksi. Di tangannya ada secarik kertas dan borgol, ‘untuk apa??’ pikir Pak Supa’at.

“Pak, aku mau latihan acting nih.. perlu lawan main, bantu ya?!.”

Pak Supa’at sudah kehabisan cara menghindari kemauan majikan mudanya yang cantik jelita itu. Dia tak menjawab ataupun bereaksi apa-apa, mengangguk pun tidak. Wiandra tahu itu dan merasa lucu saja dalam hati. Belum diberi izin masuk, Wiandra dorong Pak Supa’at ke dalam karena menghalangi jalan, lalu pintu di kunci dari dalam. Pak Supa’at pasrah saja tangannya di tarik di tuntun ke kasur.

Mereka berdua duduk berhadap-hadapan, “Naah, begini scenario-nya… aku jadi polisi cewek.. Bapak jadi penjahatnya. Bapak mau saya tangkap karena udah merkosa banyak gadis, dari anak SMA sampai anak kuliah. Yaa, penjahat kelamin-lah istilahnya,” jelas Wiandra sesuka hati. Pak Supa’at menelan ludah beberapa kali menerka apa yang akan selanjutnya terjadi. Entah apa rencana sang Nona.

“jadi Bapak mau aku tangkap en borgol gitu, tapi Bapak ngelawan dan malah balik nge-borgol aku!,” penis Pak Supa’at langsung keras bayangi Wiandra terikat tak berdaya di hadapan sesaat lagi.


“Ayo kita mulai Pak, Bapak bisa baca kan? nanti Bapak ngomong ini!” suruh Wiandra seraya memberi secarik kertas berisi tulisan tangan. Maksud Wiandra semacam script, tapi sebenarnya hanya karangan semata.

Wiandra menggenggam borgol yang setengah terbuka, tangan satu-nya mencengkram pergelangan tangan Pak Supa’at. Sambil pasang ekspresi muka galak ia berkata,

“dengan ini Bapak saya tangkap, karena banyak gadis bersaksi jadi korban.. telah Bapak culik dan Bapak nodai! Bukti sudah di tangan, Bapak tak mungkin berpaling.”.

Pak Supa’at grogi oleh kata-kata dan perlakuan Wiandra,

“ayo Pak… ringkus tanganku! lalu tikung ke belakang ke punggung!” ujar Wiandra,

Pak Supa’at kemudian melakukan apa yang diminta dengan tangan gemetar.

“Terus di borgol doong… gimana sih?!” keluh Wiandra merengutkan wajah.

Dengan ekspresi panik dan ragu, Pak Supa’at bertanya, “N-Non.. ‘ndak pa-pa? tangannya ‘ndak sakit nanti?”.

“Ya nggak-lah… lagi kan cuma sebentar, nanti juga di lepas.. ada kunci-nya kok. Ayoo.. cepat!” Pak Supa’at segera melakukan apa yang di perintah dengan penis cenat cenut manggut-manggut. Bingung, bimbang, takut tapi konak. Semua rasa itu menjadi satu.

“Naah terus Bapak baca yang aku tulis! ada di kertas,” suruh Wiandra lagi.

Dengan muka bodoh, Pak Supa’at melihat ke kertas yang tadi diterimanya tanpa tahu untuk apa. Pria itu membaca dengan seksama,

“ini ‘huahaha’ maksudnya gimana Non?” andai tangan Wiandra belum terborgol, ia ingin menepuk kening ‘cape dee…’.

“Itu maksudnya Bapak ketawa menang karena udah berhasil buat aku gak berkutik,” jelas Wiandra.

Selesai baca, mata Pak Supa’at terbelalak, seakan tak percaya seperti beruntung menang lotre. “Ii.ini.ini ‘ndak salah Non?” tanya Pak Supa’at gemetar, gemetar gembira baca isi dialog.

“Nggak ada yang salah! udah cepaat.. bacaa!!!” Wiandra gemas. Dengan sedikit terbata, Pak Supa’at berusaha membacanya, ‘Ra-rasakan! Seka..sekarang…akan kubuat kau.kau merasakan apa yang mereka rasakan sampai kau..kau juga ketagihan. Dan kau..akan jadi mi..milik *glek!*-ku.. se..ses..selam..selamanya… *glek..glek!* se..sela..selama..nya, ha ha.’ Begitu yang ditulis Wiandra dan di baca Pak Supa’at di sela sulit telan ludah, tawa pun harusnya panjang, namun karena di lingkupi rasa tak percaya, tawa itu jadi singkat.

“Naah, udah gitu.. Bapak perkosa aku deh,” suruh Wiandra ringan bagai membalik telapak tangan. Sedangkan nafas Pak Supa’at menderu-deru, penisnya konak minta ampun.


“Ayoo… kok diam aja?,” tantang Wiandra.

Pak Supa’at masih diam terpatri tak percaya. *Glek!* “sung..sungguhan ini Non?” tanya-nya dengan wajah o’on dekati Wiandra. Perlahan tangannya bergerak dan berani meraba lengan Wiandra. Terangsang-lah Wiandra, mata-nya mendelik sisakan putih bertengadah wajah dan mendesah.

Nada bicaranya pun terputus-putus,  “Yaa…ya..eMhh… hanyaa.. hanya acting Pak… ssh Pokoknya… jangan..eMhh.. jangan sampai baju..baju-ku so, *BREEK!!*”. Belum selesai Wiandra bicara ‘sobek’, bajunya di robek hingga terbelah dua di tengah.

“Pak ja, eMph..eMmm,” bibir Wiandra langsung dikulum tanpa ba bi bu be bo belum selesai bicara. Betapa nafsunya tua bangka itu, sekujur wajah Wiandra dia jilati. Bibir, hidung, pipi, mata, kening hingga kuping. Karena jijik-nya, Wiandra menjauh sampai rebah di kasur, namun terus diburu.

Wiandra ingin sudahi, namun ia pikir tak ada salahnya juga sekedar menikmati cumbuan. Apalagi ketika jilatan dan ciuman hinggap di leher, tubuhnya menggeliat kegelian. Tangannya yang terkunci ke belakang oleh borgol buat suasana tak berdaya melawan gejolak birahi sempurna. Pak Supa’at berhenti sesaat, ingin menatap wajah ayu gadis yang dicumbunya, Wiandra, sang Nona. “Pak, hhh.. udah..! ngg, oohhh” gairah Wiandra dibuat Pak Supa’at semakin tak terhindarkan. Pria tua itu mencumbu cium di antara belahan dada dengan gemas-nya, sampai lupa diri merobek Bra. Bagi Wiandra ini sedikit di luar rencana.

“Ohh Pak.. oohh.. jang, emhh… eh yess.. yessshh!” Wiandra mendesah gelisah bergeliat tak tentu arah, menikmati hisapan mulut di puting payudaranya.

Sekujur dada terleler air liur, Pak Supa’at menoreh karya mesum-nya itu tanpa indahi permohonan untuk berhenti. Dia sangat menikmati dan tak perduli pada keadaan. Baru saja diraih impian, masa begitu saja dilepaskan. Dengan sedikit tenaga dan rangsangan yang diterima tubuh, Wiandra berontak mencoba lepaskan diri lari dari tindihan, tapi bukan karena takut Pak Supa’at kelewat batas, melainkan telah sampai dia di puncak niatan menggoda.

“Pak sudah hentikan! Eh.. emh,” Wiandra memperingatkan dengan nafas terengah-engah. Ia berhasil memaksa bangun dan besandar di pintu.

Masih berwajah mupeng, Pak Supa’at terlihat lesu lemas. Masa kan harus gagal lagi berhenti sampai disini?

“maaf Non Bapak khilaf! habis Non suruh perkosa ya Bapak perkosa.. Non cantik seksi begini sih,” katanya dengan nada putus asa.

“Iya Pak, sudah.. lupakan saja… Sekarang.. lepasin aku ya!” pinta Wiandra.

“baik Non, kunci borgolnya mana?” pipi Wiandra sekejap merona. Memang ini niatan awal ia mendatangi Pak Supa’at, ingin dicumbu hingga orgasme.


Dengan wajah tersipu, Wiandra berkata “di.. di balik.. di balik celana dalamku.. Pak!”

BUK! bagai kening terbentur tembok Pak Supa’at mendengarnya. Ternyata ini semua belum usai, Pak Supa’at kembali bersemangat. “MANA? MANA? MANA? NOON…?” dia langsung lari berteriak menagih, datang menghampiri seperti Zombie lihat manusia. Wiandra menggeleng takut-takut horny ke Pak Supa’at yang terlihat begitu nafsu pada dirinya.  TAP! Wiandra tertangkap dan ditelanjangi penuh nafsu, di lolosi celana panjang berikut dalaman miliknya dengan gerak cepat satu pekikan. Tring! suara gemerincing kunci borgol jatuh ke lantai, benar ternyata ada di dalam cangcut.

“Itu Pak kuncinya.. cepat lepasin aku!” suruh Wiandra mustahil, lihat Pak Supa’at menatap nanar kewanitaannya yang terbuka bebas siap untuk disantap.

Pak Supa’at jongkok memegangi pinggul Wiandra. Sambil meliur dia berkata, “nanti Non.. heh heh… setelah.. yang satu.. inii” dengan wajah mupeng perlahan mendekati vagina. Wiandra menggeleng disertai kata-kata ‘jangan’ yang sia-sia.

“Umm cup cup, Shrrrrpp!!” Wiandra mendesah-desah keenakan vaginanya kena dimangsa. Pak Supa’at kian bernafsu dengar desahan-desahan itu, dia berkomentar,

“Non Wiandra udah ca’em memeknya harum.. suka sekali Bapak. Uumm,” Pak Supa’at kembali menciumi kewanitaan selesai mengoceh.

Bibir vagina sampai tertarik lantaran di sedot kencang mulut yang ibarat vacuum cleaner baru. Wiandra menjambak-jambak rambut Pak Supa’at,

“Emhh.. eM.Ahhh…Pak.Aanghhh!” ia orgasme, cairannya deras mengalir.


Pak Supa’at yang telah berpengalaman terhadap wanita membuktikan kepiawaiannya. Dia tekan klitoris Wiandra dan digetarkan seperti vibrator hingga juice cinta yang tadi hanya mengalir jadi bermuncratan seperti pipis hujani wajah. Wiandra meliur tanpa disadari olehnya. Momen terasa begitu lezat dan baru pernah ada laki-laki yang buatnya demikian rupa seperti sekarang ini.

“Oohhh… hosh, hosh, hosh, Heeh” nafasnya memburu usai orgasme.

Dengan wajah basah cairan cinta, Pak Supa’at menyeringai mesum menang.

“Enak banget ya Non sepertinya? heheheheh,” ejek tua bangka tersebut. Wiandra melontar ekspresi malu jauh-jauh ke samping.

Pak Supa’at berdiri, kini mereka berhadap-hadapan, “Nah, sekarang.. giliran Bapak ya?” katanya seraya menarik lepas sarung.


Di dalam kolor lusuh dan kotornya, terlihat penis panjang dan besar menjulang tinggi, Wiandra jadi ngeri-ngeri horny bayangi penis tersebut mencoblos dia punya vegi. Karena sudah orgasme dan memang tidak ingin disenggamai orang ber-status kasta sudra macam supirnya itu, Wiandra langsung cari alasan untuk lari dari masalah yang dia mulai.

“Udah Paak, lepasin aku yaa.. pliis!” iba-nya.

“Non suka gitu deh.. Bapak dibiarin tanggung. Jangan egois dong Non, Bapak kan mau di bikin keluar juga seperti Non tadi!” protes Pak Supa’at.

“jangan Pak.. aku nggak mau kalau itu,”.

“Yah.. enak di Non nggak enak di Bapak dong kalau begitu!”.

“bukan gitu…” Wiandra terus berkilah untuk dapat lari dari masalah.

“Kasih satu celup aja Non.. Bapak udah kebelet banget pengen rasain jepitan tempik Non dari kapan hari, sampai Bapak sulit tidur!” urai Pak Supa’at blak-blakan tidak sopan. Dengan bernafsu dia lepas kolor lusuhnya.

“gak bisa Pak, jangan!! aku gak mau!” Wiandra panik melihat supirnya itu  sudah siap menyetubuhinya. Ia rapatkan kedua kaki untuk menutup jalan masuk penis ke liangnya.

“Ayo dong Non.. Bapak janji pelan-pelan dan akan bikin Non lebih enak dari yang tadi pakai ini,” tunjuk Pak Supa’at ke penis konaknya, membujuk gombal.

“gak, nggak mauu…” air mata Wiandra menitik, merosot turun ke pipi jatuh ke bumi.

“Yaah.. jangan nangis Non! nanti enak kok,” Pak Supa’at terus merayu.

“Huu-u-u-uuu… Mamiii,” Wiandra tiba-tiba nangis terisak-isak seperti anak gadis kecil, Pak Supa’at kini yang berbalik panik, penisnya layu sekejap.

“Cup cup cup.. jangan nangis Non cup!” digeluti rasa kalut, Pak Supa’at meraih kunci borgol yang tadi jatuh ke lantai.

Dia lepas borgol Wiandra lalu dituntunnya ke tempat tidur dan membalut tubuh atasnya yang telanjang dengan handuk buluk. Celana berikut dalaman yang tercecer juga dia kembalikan. Tanpa di duga Pak Supa’at, setelah menyeka air mata dan selesai pakai celana, Wiandra lari ke pintu dengan wajah sekejap berubah tersenyum.

“Weeek… makasih ya Pak.. aku dilepasin. Padahal nggak apa-apa juga sih kalau beneran diperkosa hihihi. Dwah Bapak,” dengan santai Wiandra melambai dan meleletkan lidah, lalu keluar kamar sambil ketawa geli sekali.

Pak Supa’at menepuk kening, “kena aku dibohongi!.”

Ya… tangis dan air mata Wiandra rupanya hanya akting saja, tipuan semata.


############################

Nafsu ditolak, Pelet bertindak


Kesal selalu dibuat tanggung, Pak Supa’at dendam birahi. Ingin dibaliknya keadaan meski lewat jalan sesat. Menyekutukan Tuhan… memohon kepada selain Tuhan, syetan, dengan bantuan perdukunan. Setelah minta izin dua hari penuh pulang kampung, supir Wiandra itu terlihat antri di tempat seorang dukun sakti terkenal untuk solusi masalah secara ghaib. Saking ramai antrian, dia menunggu sampai sehari penuh. Ternyata gilirannya hanya makan waktu beberapa jam saja. Selesai konsultasi, dia segera pulang untuk berburu bahan yang diperlukan sebagai media pelet.  Pak Supa’at kasih khabar ke rumah via telpon yang diterima langsung Wiandra bahwa ia tidak jadi cuti 2 hari. Hal itu langsung dimanfaatkan oleh Wiandra. Ia sengaja menunggu kedatangannya bagai Istri setia yang menanti sang Suami tercinta tiba. Dengan dandanan ala Japanesse, ditambah senyum manis yang menghias wajah, Wiandra menyambut mesra Pak Supa’at


“eh Bapak.. pulang juga,” Pak Supa’at terkejut, bukannya Mbok Parmi pembantu rumah yang bukakan pintu, malah Wiandra sendiri, sang Nona majikan.

Keterkejutan lainnya sudah barang tentu kimono Wiandra, Wiandra tahu itu. Ia sengaja bertingkah anggun dan gemulai,

“gimana pakaianku Pak? ini di hadiahin Papi, kemarin dikirim lewat paket dari Jepang,” katanya, seraya bergaya bak ‘Gheisa’ di hadapan Pak Supa’at.

“Ba *ehem!*, bagus Non,” jawab Pak Supa’at berlalu masuk sambil menelan liur, entah kenapa tenggorokannya terasa kering tiba-tiba. Tak lain dan tak bukan ialah karena ulah Wiandra pastinya.

“Sini Pak, aku punya hadiah buat Bapak!” ajak Wiandra menarik lengan Pak Supa’at ke taman.

Sampai disitu, Wiandra merebah punggung ke sebuah pohon dan menekuk kaki kirinya ke depan. Belahan kimono membuat paha tersaji indah, putih mulus jenjang, sedap ‘tuk dipandang. Tanpa disangka-sangka, Wiandra menarik turun celana dalamnya, kemudian jongkok. Cuur…pissing! ya Wiandra pipis, pipis dihadapan Pak Supa’at persis, penis orang tua itu kontan mengeras.

“Pak jangan bengong aja… itu kesiniin!” tunjuk Wiandra ke selang kebun, Pak Supa’at faham maksud Nona-nya ingin membilas kemaluan dengan air agar bersih. Pak Supa’at mengambilkan apa yang diminta Wiandra.

“Aku pegang kimono, jadi Bapak yang bilasin vegi-ku yah!” ujar Wiandra semakin membuat tinggi acungan penis.

Pak Supa’at melakukan apa yang disuruh dengan riang gembira. Malah sesuai dugaan, seusai bilas.. lelaki tua itu memainkan jarinya.

“Paak… udah..Aaahh” Wiandra mendesah-desah, Pak Supa’at semakin gemas, dikobok-nya meki Wiandra dengan gencar sampai sebelah tangan Wiandra memukul-mukul kecil lengannya.

“Paak.. Pak udah… eMh.. iYaahhh.. iYaAah!” Crut..crut crrt! vagina Wiandra pun pipis jus cinta.

Pak Supa’at mendekatkan vagina dengan jarinya yang masih tertancap ke mulut. “Shrrrp!!!, langsung dihisapnya sari cinta Wiandra yang tumpah ruah itu. Wiandra pun semakin keenakan jadinya. Hadiah untuk pembantu pulang sekaligus dapat kenikmatan.Cerpen Sex

“Udah dulu ya Pak!” kata Wiandra mendorong kepala Pak Supa’at agar berhenti menjilat.

Pak Supa’at telah terbiasa diperlakukan tak adil seperti ini. Ia hanya dapat tekankan diri untuk sabar, sabar dan sabar. Pada waktunya nanti, vagina itu akan dapat dia celupi titit sepuas mungkin, vagina itu akan di sodokinya setiap hari sampai jebol, bibir memek itu akan lebam memek belur dihantam biji pelir-nya. Suatu saat… itu mesti terjadi, HARUS!!!, pikir supir jahanam tersebut dalam hati.


#########################


Wiandra kian lama kian asyik membuat Pak Supa’at mupeng, dengan berpakaian minim, TP (Tebar Paha), TTM (Tebar Tunjuk Memek), pissing dan lain sebagainya. Ia tidak sadar Pak Supa’at tengah mencari celah, kelemahan, yang dapat dimanfaatkan untuk akses pada dirinya. Tanpa ia sadari salah satu kegiatan exibisionisnya dapat jebloskan dirinya sendiri ke dalam perangkap jadi budak seks. Pak Supa’at tampak terlihat tenang setelah ketemu apa yang dia cari dan sekembalinya dari tempat dukun. Seringainya terlihat biasa tapi penuh dengan seribu rencana di kepala. Pagi itu Wiandra ingin berangkat ke kampus, ia datangi Pak Supa’at dengan atasan merah yang seksi. Sampai-sampai Pak Supa’at langsung merasakan penis-nya mengeras tanpa diberi perintah. Wiandra terlihat berdiri di depan pintu kamar seperti itu seraya menggigit BB-nya.

“Yuk Pak.. aku udah kesiangan nih!” lamunan jorok Pak Supa’at buyar sementara. Dia minta izin ganti baju kemudian.

Sepengetahuannya, kampus Wiandra libur karena UAS telah selesai dan hanya tinggal menunggu hasil. Hanya ada beberapa makasiswa masuk ambil semester pendek, pikirnya mungkin Wiandra ambil kuliah itu barangkali?. Dugaan setengah curiga itu memang tak sepenuhnya salah. Sisanya ya seperti biasa TP (Tebar Paha) disambung live show vagina.


#################################

* Dirty Pervert Parking *


Tak lama kemudian, Wiandra keluar dari dalam gedung kampus. Karena jumlah mahasiswa sedikit jadi dosen minta tugas makalah saja. Sebelum balik ke mobil, Wiandra sudah melepas celana dalam di kamar mandi, siap untuk unjuk vegi.

“Fuuh, payah deh… udah capek-capek, gitu aja kuliah-nya!” Wiandra mengeluh.

“Kita pulang atau bagaimana Non?,”

“nanti Pak, aku mau santai dulu! cari angin sebentaar..” Wiandra menuruni sandaran dan merebah diri sambil mengipasi diri pakai tangan.

“Kalau begitu mesin dinyalakan saja biar bisa pakai AC Non?” usul tua bangka itu bagus.

“jangan Pak! aku lebih suka udara alami,” sahut Wiandra membuka jendela pintu lalu mengambil kipas dari kantung belakang bangku. Usul itu langsung ditepisnya mentah-mentah, memang dasar dia lagi ingin nakal.

“Mending kita ngobrol apa kek. Aduh…matahari kok sekarang jam 9 udah panas ya Pak? nggak seperti dulu, jam segini masih sejuk!” kata Wiandra sambil mengibas kipas gencar kegerahan.

“Iya Non.. kurang tahu kenapa jaman sekarang makin panas. Ada yang bilang sih udah dekat kiamat,”

“ah, Bapak nakutin aja deh! Oh iya, lupa tadi beli es krim di kantin” Wiandra mengoprek isi tas. “Naah, ini dia kesukaanku” komentar Wiandra pada Conello coklat-nya. Dihisap-hisapnya dengan nakal seperti waktu dulu emut permen kojek. Lidah Wiandra sengaja mengitari bagian atas seolah-olah itu kepala penis.

Tak seperti biasa, Pak Supa’at terlihat tenang, penis tetap konak tapi ekspresi mupeng tak ada. Wiandra sedikit merasa aneh. Ia tak tahu kalau perubahan itu disebabkan sugesti dari sang dukun. Pak Supa’at telah diberitahu untuk bagaimana bersikap terhadap pancingan Wiandra.  Sambil makan es, Wiandra meraih tissue mobil, ia angkat kaki mengangkang. Tissue di sapu ke sepanjang batang paha untuk menyapu keringatnya. Pak Supa’at tetap tak kelihatan tertarik, tentu vagina sudah terpamer indah, dapat di lihat sesukanya. Wiandra terus melanjut obrolan untuk membakar gairah Pak Supa’at.Cerpen Sex

“Sini Non.. Bapak bantu lap keringat, kasihan makan es-nya terganggu!,” usul Pak Supa’at, bagi Wiandra oke-oke saja, justru ikan telah mengigit umpan menurutnya.

Wiandra sengaja mengangkang lebih lebar untuk menebar aroma wangi vagina-nya lebih tajam tercium hidung Pak Supa’at. Ia tersenyum juara lihat tonjolan di celana kusam Pak Supa’at. Bagi Pak Supa’at justru dia-lah yang jadi pemenang di akhir acara. Pelan-pelan Pak Supa’at menyeka butir demi butir keringat yang melekat di paha putih mulus Wiandra.


“Oalah.. tissue-nya habis Non! Bapak lap pakai lidah saja, boleh?” Pak Supa’at meminta restu mesum, Wiandra mengangguk saja sesuai rencana.

Dengan santai tidak bernafsu seperti biasa, Pak Supa’at melaksanakan tugasnya. Leleran air liur menggenang di paha. Wiandra kegelian, tanpa sadar tangannya menjambaki rambut Pak Supa’at. Pak Supa’at semakin yakin bahwa Wiandra telah takluk. Supir muka meki itu berhenti sesaat menjilat, menatapi vagina dengan dingin. Dalam hati, sebenarnya dia sudah sangat bernafsu sekali,

“Non.. memeknya juga keringatan, boleh Ba,”.

“boleh Pak..bolehh” Wiandra langsung memotong pertanyaan, karena sudah sama-sama tahu, buat apa lagi buang waktu, lebih baik tenggelam dalam kepuasan nafsu.

Wiandra langsung mendesah lirih panjang ketika muka mesum Pak Supa’at terbenam merdeka di kewanitaannya. Pria tua itu kali ini perlahan namun pasti mempermainkan itil dan meki. Wiandra menggelinjang-gelinjang kelabakan. Tanpa ia ketahui, di sela jilatan dan emutan, Pak Supa’at menghembuskan bacaan aji-aji mantera. Sehingga kenikmatan yang mendera vagina berkali-kali lipat. Mulut Wiandra sampai megap-megap terbuka dan meliur karena nikmatnya jilmekan di vagina. “Terus Pak! aahh.. sedikit lagiih.. eMhh… yes.. yesss.. Aa!, Pak?” tiba-tiba Pak Supa’at berhenti, Wiandra tak mengerti, tanggung sekaligus bingung.

“Maaf Non.. Bapak khilaf!” Pak Supa’at ber-akting.

“k-kenapaa? kenapaaa? Hh..Hh!” tanya Wiandra di sela orgasme yang menggantung.

“Menurut Non, Bapak berlaku seperti ini tempo-tempo hari kan ‘ndak boleh,”.

“bo-boleh kok, Pak.. boleh.. sekarang boleh Hh…ayo lagi Pak!” suruh Wiandra dengan wajah sayu nan ayu, jarinya meremasi baju Pak Supa’at di pundak.

“Jangan Non, sudah.. Bapak nanti merasa bersalah lagi!” Pak Supa’at berlagak. Ia langsung men-starter mobil dan tancap gas membawa mobil keluar parkiran tanpa disuruh Wiandra.

Wiandra yang tersiksa jadinya. Ia baru merasakan kini apa yang di alami Pak Supa’at, bagaimana rasanya tidak enak tanggung klimax. Seperti bersin yang tak jadi. Terbesit sedikit dalam hati ia merasa bersalah, baru sekali saja dipermainkan seperti ini, bagaimana berkali-kali. Di tengah konflik batin, Wiandra mengobok vegi-nya sendiri. Di sela ke horny-an ia merasa heran, kenapa stimulasi pada vagina sendiri terasa hambar? Gagal tak buahkan orgasme seperti biasa.

“Pak stop! eMhh.. tepi-in mobil Pak plis!” liur Wiandra membanjir sambil remasi payudaranya.

“Jangan Non, nanti saja di rumah!” Pak Supa’at memberi harapan.

“benar ya.. benar ya Pak, emh!” Wiandra senang mendengarnya, Pak Supa’at sok tenang. Padahal dia sendiri sudah tidak tahan ingin mengoyak-ngoyak liang vagina Wiandra pakai penisnya. Di tengah perjalanan, Pak Supa’at tambah siksaan gairah Wiandra dengan elusan dan jilatan di beberapa tempat yang sensitive rangsangan, buat Wiandra mendesis-desis keenakan. Tiba di rumah, tepat Mbok Parmi minta izin keluar mau belanja ke pasar. Mami Wiandra pergi urus bisnis boutique mereka di Jakarta. Suasana mesum terbangun sempurna.


########################

“Ayo Pak.. terusin yang tadi!” pinta Wiandra lirih, minta libido-nya dituntasi karena terus meninggi akibat peletan.

Ya, peletan… Wiandra tidak tahu bahwa semenjak dia tampil pipis di depan Pak Supa’at, dia malah memberi ide untuk media pelet. Air seni.. ya, air pipis. Suatu waktu ketika ia pipis, Pak Supa’at menadahnya ke sebuah wadah yang alasannya waktu itu jangan pipis di kebun nanti Mami-nya mencium wangi pesing. Air seni itu di bawa ke Dukun. Jadi siapa pemilik vagina pengucur air seni tersebut akan jadi takluk dan tunduk oleh tuan-nya, satu-satunya yang berhak masuk dan pesta pora di dalamnya yang kemudian oleh Dukun dijodohkan ke penis Pak Supa’at. Air seni Wiandra itu dipakai untuk cuci tangan, jadi vagina pengucur air seni tersebut akan senantiasa gatal dan ingin selalu di obok jarinya. Tidak kan ada satu jari pun yang akan dapat memuaskan selain jari-nya, bahkan masturbasi dengan jari sendiri pun. Begitu juga mulut, sang dukun menyuruh Pak Supa’at berkumur, jadi bibir vagina Wiandra akan senantiasa melayang berjuta kenikmatan ketika bertemu dengan mulut dan lidahnya, meski mulut hitam ber-aroma jengkol sekalipun. Terakhir air seni disiramkan ke batang penis, jadi vagina si pengucur air seni akan senantiasa hanya ingin dipenuhi batang penis itu. Tak ada yang diinginkannya masuk, hanya penis Pak Supa’at sebatang, sekalipun masuk, akan terasa hambar. Maka tak heran jika Pak Supa’at terlihat tenang.

“Paak, ayo Pak.. uhh!” Wiandra mengobok vegi-nya gencar, tapi tidak orgasme, malah hanya meningkatkan derita gairah yang tak berakhir.

“Bapak mau bantu sih.. tapi syarat-nya Non juga harus bantu Bapak,” kata Pak Supa’at dengan cengiran lebar, merasa dibutuhi.

Wiandra menangkap maksud busuk tersebut. Ia menggeleng yang artinya ‘tidak’, tapi masih terus meremas payudara dan mengobok vaginanya sendiri. Pak Supa’at tersenyum saja, dengan santai ia pindah ke jok belakang lalu melepas pakaiannya.

(Oh, Noo!!), batin Wiandra ketika melihat sosok menjijikkan Pak Supa’at tanpa pakaian. Akhirnya ular itu keluar dari tempat persembunyian, menunjukkan diri siap beraksi pada meki.

Sambil rebahan, Pak Supa’at berujar, “Nah.. sekarang.. kalau Non mau, Non naik ke atas Bapak lawan arah!” maksud tua bangka itu posisi 69. Wiandra gencar menggeleng.

“ya sudah, berarti jangan salahin Bapak toh.. kalau Non ‘ndak puas?” Pak Supa’at menggoda dengan cengiran mesum nya.

Sementara Wiandra diam terombang-ambing dalam gairah tak tuntas-nya, Pak Supa’at menambah kebimbangan tersebut,

“Ya wis.. kalau begitu.. Bapak pakai lagi celana dan keluar dari mobil saja ah,” goda Pak Supa’at terus memancing, dan ‘ikan koi’ sasaran pun diperolehnya.

“JANGAN.. Jangan Pak!” jawab Wiandra teriak di awal, pipi-nya merona malu merasa kalah dipermainkan.


Terpaksa ia pindah ke belakang, mata-nya terus menatap jijik ke penis yang siap pesta pora vagina-nya.

“Ayo.. celananya silahkan di buka Non! kancutnya sekalian!” kurang ajar si tua bangka itu menjadi-jadi.

Pipi Wiandra kian bersemu merah cantik jelita dengar perkataan cabul tersebut, yang notabene keluar dari mulut supirnya sendiri. Semakin lama ia ragu untuk bertindak, vaginanya semakin terasa ‘gatal’ lantaran protes akan hak nikmat surgawi. Mau tak mau ia cepat-cepat melepas rok coklat-nya, sisakan atasan warna merah-nya.

“Betul-betul indah dan sempurna tubuh Non ini, he he” puji Pak Supa’at mengomentari Wiandra yang kini sudah tak ber-celana. “mari Non sini.. Bapak juga sudah ‘ndak tahan ingin meni’mati hehehe” katanya seraya meraih pinggang Wiandra mendekatkan vagina mungilnya ke mulut Pak Supa’at.

“Ahh Pak!! aahhh…” Wiandra mendesah-desah sedetik kemudian. Kepalanya menunduk setengah berdiri di bangku belakang, merunduk bertumpu ke dashboard dimana Pak Supa’at di bawahnya asyik melumat vagina.

Pak Supa’at menuntun tangan Wiandra ke penisnya, “ayo Non kenalan, jangan malu-malu hehe. Ooh.. lembutnya tangan si Non, di kocok Non ugh!,” tapi Wiandra malah diam saja, Pak Supa’at pun tidak balas men-jilmek.

Dengan wajah malu-malu horny Wiandra bertanya, “kok..kok nggak.. gak terus Pak? gak.. nggak di jilat.. lagih?”.

“Ya habis si Non diam aja, di kocok dong kontol Bapak juga! Jangan mau enak sendiri! Sini naik ke atas Bapak, terus masukin punya Bapak ke mulut Non, sepong yang enak!” tegas Pak Supa’at, seenaknya memerintah Nona majikan seperti itu.

Wiandra mengalah. Perlahan ia menggeraki tangannya naik turun, telapaknya yang putih halus bagai kulit bayi bergerak mengocoki penis hitam digenggamannya. Tak tahan karena Pak Supa’at belum juga berbuat apa-apa pada vaginanya, Wiandra nekat memasukkan penis itu ke mulutnya, lalu naik ke atas Pak Supa’at yang tengah melenguh serak parau keenakan. Akhirnya bibir Wiandra yang tipis itu berhasil juga kemasukan penis. Bibir itu bahkan menghisap dan menggesek naik turun. Rasa hangat dan mandi liur dinikmati Pak Supa’at di batang penisnya.


“Ookh.. e-enak Non.. enaaakh!” lenguh Pak Supa’at, ia lantas menangkup pantat Wiandra dan mulutnya mendekat,

“Shrrrp!!” dan Wiandra pun berdehem nikmat vaginanya kembali di lumat. Dengan posisi 69 itu mereka saling memberi kenikmatan.

“Pak, ehh.. yes.. yess!,” sesekali Wiandra terdongak mendesis melepas sepongan karena begitu nafsu Pak Supa’at melumat vegi-nya yang kecil mungil. Kalau sudah begitu, Pak Supa’at akan mendorong kepala Wiandra ke penisnya lagi agar kembali oral.


Wiandra menggeliat-geliat, tanpa sadar mulutnya yang mengemut penis tarik ulur dari pangkal sampai batang, membuat Pak Supa’at keenakan.

“Terus Non, ookh.. lidahnya.. mainin lidahnya! Okhh…sering ngisep kontol ya Non, pintar bikin enak hehehe, Okh!” sudah dikasih enak, Pak Supa’at malah mengejek, dasar orang tua brengsek.

Tubuh Wiandra mengejang, penis di mulut terlepas, “Pak, Aangh! eMpff..”, ia orgasme oleh mulut rakus Pak Supa’at. Pak Supa’at langsung sigap menenggak jus cinta sembari mendorong kepala Wiandra untuk lanjut sepongan, membuat desahan Wiandra kembali teredam, berdehem tak jelas. Croot! Crott! Crot!, mata Wiandra terbelalak ketika penis di kulumannya memuncratkan sperma. Ia serasa ingin muntah merasakan cairan kental dalam jumlah banyak itu penuhi mulut. Karena kepalanya ditahan, terpaksa sperma di telan semua agar tidak lama mual.

“Nah…begini kan enak, sama-sama dapat. Non puas.. Bapak juga puas? adil toh, hehehe” sindir Pak Supa’at disertai cengiran mengejek.

Dia bergerak bangun dari tindihan sambil mengecup kuat vegi Wiandra sekali, Wiandra menyingkir setelah mendesah nikmat keras atas perbuatan iseng tadi. Mereka kemudian duduk berdampingan, saling tatap-menatap, hanya saja tatapan Wiandra bagai gadis dilanda birahi, sedang Pak Supa’at pandangan mencemooh.

“Wue he he heh” Pak Supa’at tertawa bangga karena tangan Wiandra bergerak menggenggam dan mengocok penisnya, “kenapa Non, hmm?” godanya dengan wajah mengejek, “suka toh sama punya Bapak? hehe… mbo’ ya jangan dikocok terus.. kalau konak bagaimana? Tuh kan, sisa peju Bapak jadi keluar lagi, ayo bersihin!” suruh bandot itu kurang ajar dengan gaya bos.

Wiandra yang masih belum mengerti tentang perubahan dalam diri menurut saja. Selesai itu, ia kembali mengocoki penis, dan Pak Supa’at tertawa menang lagi. Takluk sudah dia, Wiandra sang Nona. Supir jahanam tersebut melancarkan rencana tahap berikutnya.


“Non.. ‘ndak enak di mobil terus seperti ini, lebih baik kita ke dalam saja, sepi ini toh?” usul Pak Supa’at.

Untuk meyakini Wiandra, digesek-geseknya bibir vagina pakai jarinya. Wiandra mengangguk dan mengulum penis, lalu di lepas dan kembali digenggamnya seolah penis itu harus menuntasi libidonya terlebih dahulu. Melihat Wiandra demikian, Pak Supa’at jadi lebih lebar senyum kurang ajarnya. Keluar dari mobil mereka tanpa bawahan, setengah bugil. Pak Supa’at menjinjing celananya dan rok Wiandra. Sambil jalan masuk, mereka berdua saling meng-invasi kelamin lawannya, Pak Supa’at mengobok vegi, Wiandra mengocok penis. Pak Supa’at menyelipi jari lewat belakang. Cairan cinta Wiandra meneretes ke lantai di sepanjang jalan,

“Whuaa… si Non ninggalin jejak memek, he he he he” ejek Pak Supa’at, “ayo Non… yang banyak lagiii.. teruus!!! sampai banjiirr, hi hi hi hi hi,” Pak Supa’at mengobok gencar seraya tertawa gila, sampai membuat Wiandra berhenti jalan baru di ruang tamu rumah.

“Paak.. Pak, uuh… sss Anggh…Angh!!,” desis desah erang Wiandra keenakan, sampai-sampai kaki terkangkang lebar. “Nungging Non!” suruh Pak Supa’at sambil mendorong punggung Wiandra.

Jadi, masih mengangkang dan di obok dari belakang, Wiandra menumpu diri dengan tangan kanan di lantai, tangan kiri masih menggenggam dan mengocok penis Pak Supa’at yang ada di sisi kirinya. Setelah melempar dua celana yang dijinjingnya, Pak Supa’at menggunakan tangannya untuk mengangkat dan memapah kaki kiri Wiandra, diposisikan olehnya Wiandra seperti anjing kencing. Wiandra mendesah-desah nada tinggi seperti orang histeris, baginya, baru pernah ada yang memperlakukan sedemikian rupa, terhina namun sensasi seks gila pertama baginya. Pinggulnya bergerak imbangi kobokan jari tengah Pak Supa’at, desahannya kian lama kian lirih terputus-putus.  Dan lendir cinta vagina pun mengucur seperti air keran. Cuur! basahi hingga pergelangan tangan Pak Supa’at. Tawa cekikikan menang pria itu tak lama, karena selang sekian detik dia yang kelojotan. Kocokan Wiandra pada penis gencar sewaktu orgasme. Ejakulasi pun tak terhindarkan. CROOOTT!!!!, sperma muncrat ke wajah Wiandra karena posisi tubuhnya miring. Pak Supa’at bahkan sengaja mengarahi satu dua semprotan ke pakaian Wiandra yang masih melekat. Belepotanlah Ribbon red dress berikut rambut kemerahannya. Sperma di wajah diratakan Pak Supa’at sambil tertawa kurang ajar. Ditepisnya tangan Wiandra yang masih saja tak henti mengocok penis. Dengan jalan gagah, ia pindah ke belakang gadis itu, merunduk benamkan wajah melumat vagina yang masih basah cairan orgasme.

“Oouh… Pak!” suara dan nafas Wiadra hampir habis, namun gairahnya tidak, malah kembali naik.

Dengan rakus, Pak Supa’at seruput cairan manis wangi yang diproduksi PT. vagina Wiandra yang masih posisi nungging. Lendir yang lekat di vagina, pangkal paha, mengalir ke betis, diseruput habis oleh supir tua mesum itu.


“Ahh… uena’e nonok Non-ku iki, ihi ihi ihi ihi.”

Tanpa terasa, dengan telapak tangan menapak lantai, Wiandra menungging tinggi sekali pinggulnya. Sampai-sampai kepalanya tertunduk dan dapat lihat ke belakang dari bawah. Pak Supa’at meraih pinggang Wiandra dan mengangkatnya sambil dia tegak berdiri, hingga vagina Wiandra sejajar mulut hitamnya, sedang penisnya ada di depan wajah Wiandra persis.

“Ayo Non, bikin keras lagi!” maksud Pak Supa’at agar Wiandra oral.

Wiandra yang tak ada lain pilihan, dan baru pertama kali mengalami posisi seperti ini menurut saja. Pak Supa’at juga tidak menyia-nyiakan memek di depan muka pengennya. Mereka ber-69 kembali . Dengan ini, Pak Supa’at betul-betul berkuasa atas tubuh Wiandra. Bahkan Wiandra tak dapat berbuat apa-apa ketika Pak Supa’at mengangkat tubuhnya di pinggul tinggi-tinggi hingga mulut hanya menjepit kepala penis, lalu di lepas ke bawah yang berakibat menohok kerongkongan.

“EMpff!!” kalau sudah begitu, air liur sepongan meluber keluar seiring air mata. Wiandra merasa betul kalau ia dipecundangi dan dilecehi, tapi apalah daya.

Merasakan penis kembali tegang, Pak Supa’at memposisikan seperti semula, berdiri di belakang Wiandra yang menungging seksi. Ia gesekkan kepala penisnya ke bibir vagina, Wiandra menggeliat dengan sendirinya. Direntangnya bibir vagina lebar-lebar, Wiandra berdesis hebat, disentuh lembut saja terasa nikmat, apalagi di‘jewer’ seperti itu. Pak Supa’at sengaja berlama-lama, seolah ingin lihat dulu apa yang ada di dalam memek Wiandra, pipi Wiandra merona, merasa begitu dilecehkan, namun gairah membelenggu untuk menyudahi. Meski sudah dibuka lebar, liang vagina Wiandra sangat kecil, Pak Supa’at kesulitan juga mencoblos masuk. Setelah berusaha keras, usahanya membuahkan hasil. JRESS! Wiandra menjerit histeris, jeritan itu ada banyak makna. Selain baru pertama kemasukan kontol ukuran kontol kampung, kemasukan juga vaginanya itu oleh penis orang yang selama ini dipermainkannya. Wiandra meliur nikmat karena vagina-nya memang sudah di-jodohi dukun dengan penis Pak Supa’at. Akhirnya dua jenis kelamin itu bertemu, saling mengisi, saling melengkapi. Pak Supa’at sendiri melenguh-lenguh keenakan penisnya merasakan jepitan vagina yang selama ini di-impikannya. Kali ini pun dia lama berdiam diri, liurnya meleleh tampak menikmati pijatan demi pijatan daging memek pada penis hitamnya. Setelah terbiasa dan dapat kendalikan diri, barulah dia raih dan tarik kedua tangan Wiandra ke belakang, dicengkram di pergelangan tangan. Kini Wiandra seperti kuda delman dan Pak Supa’at kusir-nya, tubuh Wiandra dalam kekuasaan Pak Supa’at. Takut jatuh, Wiandra balik mencengkram lengan Pak Supa’at, mereka jadi saling berpegangan dan tarik menarik.

“Nah, Non.. oookh… Ba-Bapak ‘ndak.. ‘ndak mau.. dituduh.. oookh, merko.. merkosa.. lho.. Hngk! jadi.. jadinya Non.. Non yang harus.. ngentot.. ngentotin.. Bapak, Ukh”

jelas Pak Supa’at mengenai kondisi-nya, di sela menahan enak jepitan vagina Wiandra.


Wiandra yang juga tengah berjuang menahan sejuta kenikmatan di liang cinta yang dipenuhi penis supir-nya itu, hanya mampu mengeluh dalam hati. Nikmat bersenggama membungkam segalanya meski tahu dipermalukan dan dilecehkan. Wiandra tidak ingin membuang-buang waktu lagi, ingin cepat usai dari derita birahi ini. Ia tarik Pak Supa’at ke arahnya, menghentak tubuhnya sendiri

“Aaahh.. ahh!” Wiandra mendesah-desah lantaran nikmatnya.

Pak Supa’at cengengesan setelah wajahnya sempat ber-ekspresi bego keenakan. Wiandra meliur keenakan karena ulah diri, ia tahu betul kalau ini penghinaan diri, tapi nikmat sekali. Melihat Wiandra kelamaan diam tak bereaksi resapi kenikmatan yang baru sekali ini, Pak Supa’at sengaja seperti ingin menarik keluar penis, padahal dia hanya ingin mengulur sampai ke pangkal batang sehingga sekujur batangnya terselimuti liang vagina nanti ketika Wiandra menyentak lagi. Wiandra tertipu dengan bodohnya, tak rela kalau penis Pak Supa’at keluar dari kewanitaan, langsung ia tarik lagi Pak Supa’at menyentak tubuhnya dari belakang.

“Anggh.. ahh.. ah,” Wiandra kembali mengerang dan bergetar nikmat

Lidah Pak Supa’at terjulur merasakan enak batang penisnya menyeruak masuk kelegitan vagina Wiandra, liur menetesi pantat putih mojang Bandung tersebut,

“En-na-aakh” celoteh Pak Supa’at singkat.

Pak Supa’at memancing lagi dengan uluran penis, Wiandra yang masih mendesah-desah langsung merelakan diri tersodok kembali,

“ANGGH!!” ia pun mengerang dan mengerang. Cerpen Sex

Pak Supa’at ketagihan, Wiandra juga. Akhirnya Pak Supa’at bertugas mengulur, Wiandra yang mengatur seberapa dalam penis menyanggah memeknya menohok. Jika ia ingin penis melesak meninju dinding rahim, ia tinggal hentak keras-keras lengan Pak Supa’at hingga sodokan dapat dalam maksimal. Lama kelamaan, mereka makin terbiasa dan menikmatinya. Kendati demikian, jikalau ada yang ingin klimaks, salah satu dari mereka akan berhenti. Misal Pak Supa’at ingin muncrat tapi belum puas menikmati jepitan vagina, ia akan ulur penis jauh-jauh sampai tersisa kepala saja. Begitu juga Wiandra, jika dirasa-rasa ingin orgasme namun masih tak rela berhenti disodok, ia akan hentikan gesekan yang akan akibatkan orgasme datang lebih cepat, menghentak lagi jika sudah balik ke nol untuk kembali nikmati seks.


Pak Supa’at tak mampu jua menahan enak lama-lama, mani sudah berontak di hujung kepala penis, ingin keluar bebas merdeka di vagina. Diambil alih kendali penetrasi, ia cengkram erat kedua pergelangan tangan Wiandra dan menyodoknya seperti orang kesurupan seraya meracau sinting,

“GODAIN LAGI!! HAYO.. GODAIN BAPAK TERUS!! SUKANYA GODAIN ORANG TUA… NIH, HIH!! HGGH, ENAK.. TAHU RASA NONOK-MU TA’ EWEK… DASAR NONA LONTE!! MEMEKNYA DI ENTOT SUKA! OOKH… OOOKH… OKH ‘Croot!!’ OKH ‘Crott!!!’” mani muncrat deras di vagina Wiandra

Pak Supa’at tampak begitu menikmati tiap-tiap semburan yang keluar, kelojotan persis orang ayan. Tubuhnya dan tubuh Wiandra melekat ketat, pergelangan tangan Wiandra sampai membekas merah akibat di cengkram erat. Usai ejakulasi, Pak Supa’at seperti tak rela mencabut penis dari jepitan vagina Wiandra, namun karena tubuh tua-nya lelah, terpaksa ditariknya keluar juga. Ia ambruk jatuh duduk melantai, Wiandra nungging melutut, kepalanya tertunduk bertumpu ke tangan. Sperma berhamburan keluar liang cinta-nya.

“Ookh… wuena’ee nonok-mu Nooon.. ena’ betuull.. hh hh hh, suka sekali Bapak sama tempik-mu iki, liat! Bikin Bapak ketagihan, ena’nya ‘ndak berhent-henti! Ooohh..” komentar Pak Supa’at.

Wiandra merasa masih belum tuntas, ia menggesek klitorisnya sendiri “Paak…terus Pak! aku belum puaaas…” mohon Wiandra dengan suara lirih, seksi. Pak Supa’at menyeringai menang, Wiandra betul-betul sudah jatuh ke tangan. Pria tua itu lantas berdiri. “Boleh-boleh.. Bapak bikin Non puas, tapi…” dia berhenti bicara tiba-tiba, ia celupi jari ke vagina Wiandra hingga meluap air mani. “ini di telan dulu!” sambungnya, jari tengahnya yang belepotan ditunjukkan ke depan wajah Wiandra.

Sebagian diri Wiandra menolak, merasa di rendahkan. Namun sebagian menghendaki pencapaian orgasme berikut. Sebagian diri yang menolak pun dikalahkan, Wiandra mengulum jari itu, Pak Supa’at tertawa menyeringai lebar lantas berkomentar, “bagus-bagus, terus sampai bersih hehehe.” Ia menarik jarinya dari kuluman Wiandra, “whua… ada bakat jadi lonte Non, hak hak hak” ejek bandot tak tahu berterima kasih itu, melihat jarinya bersih tanpa mani melekat. Wiandra tertunduk malu, benci sekali dia sebenarnya terus di ejek dan di lecehi supirnya sendiri. Tapi kembali, apalah daya seorang gadis cantik lemah di relung gairah.


Pak Supa’at mengulang perbuatan merendahkan Wiandra itu hingga tiga-empat kali, hingga mani tak ada lagi yang tersisa “ayo.. jilat seperti Non sepong kontol Bapak tadi!” suruh pria tua itu pada Wiandra yang tengah mengulum jari terakhir kalinya. Wiandra manggut patuh, lantas memainkan tehnik lidah ke jari. Lidahnya menggelitik dari buku-buku dekat telapak tangan menyusur ke ujung jari. Sama seperti dari pangkal batang ke kepala penis. Mulutnya meliuri, menggesek dan menghisap. Penis Pak Supa’at pun kian mengeras, dia juga sudah konak sejak tadi mengobok vagina mencari mani. Ia dekatkan penis konaknya ke depan wajah Wiandra, Wiandra faham maksud tersebut. Dengan tangkas digantinya objek kuluman, Pak Supa’at pun sekejap melenguh-lenguh keenakan. Namun orang tua itu pintar, tak ingin berlama-lama dengan mulut atas Wiandra, inginnya mulut Wiandra yang di bawah alias mrs. vagina. Pak Supa’at menarik keluar penis dari mulut Wiandra dirasanya cukup untuk pemanasan. Sambil berkacak pinggang ia berkata,

“nah.. ayo jalan merangkak ke sofa itu! Bapak puasi Non disana, ayo cepat!” Plak!!, suruhnya ditutup tamparan di pipi pantat Wiandra yang putih sekal menggemaskan. Wiandra mengaduh lantas memandang Pak Supa’at dengan wajah kesal, meski tahu gairah dikuasai, tetap saja ini semana-mena menurutnya.

“Bapak keterlaluan, memang aku ini apa…?! Anjing?! Bapak memang menguasai tubuh Wiandra, tetapi tidak hati Wiandra!!!” tegas Wiandra dengan suara lantang.

Pak Supa’at hanya menyeringai lebar dengar itu, “hehehe.. si Non ini, masih bisa lancang nentang Bapak, lonte yang ngelawan Tuan-nya itu harus dihukum!” ekspresi Pak Supa’at sekejap berubah galak, Wiandra ciut, ia jalan merangkak tanpa disuruh, menjauh lihat jari supirnya itu mengarah vegi-nya. JREES!! “Aaa…” Bibir tipis mungil Wiandra ternganga, keluar liur meng-ekspresikan kenikmatan yang dirasa, “Ini hukuman untuk lonte cantik yang m’bandel.. ‘ndak patuh sama Tuan-nya” kata Pak Supa’at ke Wiandra yang menatap takut, dengan suara bergetar Wiandra mengiba, “jangan Pak! maaf.. ampun..am-AAAAH!” tanpa mendengar permohonan, Pak Supa’at mengobok vagina dengan gencar.

“AYO “PLAK!’ GALAK LAGI NON! ‘PLAK!’ BAPAK SUKA ‘PLAK!’ LIHAT NON ‘PLAK!’ KALAU SEDANG MARAH… ‘PLAK!’ … MAKIN CA’EM ‘PLAK!’ hihihi” sambil menghardik Wiandra, Pak Supa’at melecehkan dengan menampari pantatnya.

Tangan Wiandra ke belakang bermaksud menyuruh Pak Supa’at berhenti, tapi malah hanya menyenggol lengan saja,


“apa Non, berhenti? ‘ndak sudi.. tiada maaf bagi Nonok-mu yang wangi ini, HI HI HI HI, IHI IHI IHI IHI.” Makin keras Pak Supa’at tertawa sinting, semakin mati-matian ia mengobok meki.

Tubuh Wiandra melejang-lejang kenikmatan, BYUR!! BYUR! CUUR! CRRT!! seperti Maria Ozawa dan bintang porno Jepang lain orgasme, vagina Wiandra bermuncratan lendir bak air mancur. Cairan liang cinta Wiandra mengguyur sekujur tangan Pak Supa’at.

“Wuak hak hak hak, nah.. sukakan si Non, keluar juga lonte-nya. Hak hak hak hak!” pipi Wiandra langsung merona merah malu dengar ejekan tersebut, karena memang benar adanya. Tubuh tak dapat berdalih.

Wiandra jatuh telungkup, lelah sekali dia dikerjai hingga tiga kali orgasme, mana yang ketiga ini dahsyat orgasmenya. Malang Pak Supa’at belum merasa usai, jari si tua itu masih menancap di vegi-nya. “Lhoo.. siapa yang suruh sampeyan tidur Non, acara kan baru mau di mulai!” katanya sambil mengocok penis, meski tertawa habis-habisan, dia sebenarnya bernafsu sekali melihat semua yang terjadi pada Wiandra.

“Eehh.. eh..” Wiandra mendesah-desah lemah karena Pak Supa’at kembali mengobok, ia angkat kembali pinggul hingga menungging seksi. Pak Supa’at berhenti sesaat, Wiandra berjalan merangkak, tapi merangkaknya itu lambat, membuat tak sabar Pak Supa’at. “yang cepat dong Non.. yang cepaat!!,” Pak Supa’at tiba-tiba mengobok gila vagina. Ternyata strategi itu berhasil, Wiandra jadi merangkak cepat menuju sofa yang dimaksud. Ia sempat orgasme lagi sekali di tengah rangkakannya. Setiba di sofa, Wiandra langsung merebahkan kepala. Kakinya masih melutut, jadi masih menungging, dan inilah yang buat syahwat Pak Supa’at menggelora. Wiandra dengan nafas yang tidak beraturan seperti orang habis lari jauh, hanya pasrah merasa kakinya di rentang lebar dari belakang, ia tahu ingin disetubuhi lagi oleh Pak Supa’at. Apalagi ia merasakan kepala penis supirnya itu melekat di bibir vagina dari belakang.

“Enggh!!” erang Wiandra lemah, kembali meki-nya di belah.

“Oooh.. memang wuena’e nonok si Non ini!,” celoteh Pak Supa’at sambil meliur menikmati kembali jepitan vagina Wiandra di penisnya. Ia lantas bergerak brutal menyodoki Wiandra yang sudah seperti orang mau pingsan. Situs Togel Online Terbaik


“INI HUKUMAN GADIS CANTIK YANG PUNYA MULUT BAWEL, HERGGH!!! HERGGH!! NIH, HERGGH!! HERGGH!!,” di raih Pak Supa’at pinggul Wiandra dan di angkat sehingga Wiandra nungging dengan bagian bawah melayang ke hadapnya.

Kepala dan lengan Wiandra masih menumpu di sofa, ia jadi seperti Supergirl, namun tersodok-sodok musuhnya. Pak Supa’at bergairah sekali dengan posisi ini, dia seakan berkuasa atas tubuh Wiandra, melihat si cantik itu terpental-pental dipakai sesukanya dengan penis terjepit di vagina. Sedang Wiandra merasa baru pernah digarap seperti ini, sensasi rasa nikmat pun melonjak tinggi lantaran darah turun ke kepala yang tertunduk.

“Aaaahh!!!” jerit orgasmenya meluncur keluar mulut. BYUUUR!! BYUUR! CUUR!! CRRT!! CRRT!!,

cairan orgasme bermuncratan lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya, keluar dengan posisi ini membuat Wiandra serasa terbang ke surga. Pak Supa’at jadi semakin bergairah merasakan penisnya dihujani jus memek Wiandra yang aromanya harum.

“Enakk-kh.. Henggkk… enaakk.. hhh Non.. nonoknya.. legit, basahh.HEngkkh!” Pak Supa’at melesakkan penisnya ke dalam vagina sekuat tenaga terakhir hingga Wiandra menutup wajah dengan tangan karena hendak menabrak sofa. CROOT!! CROTT!! pria tua itu  berkelojotan dengan lidah terjulur keluar liur, menikmati apa yang dirasakannya enak. Wiandra merasa kecrotan sperma Pak Supa’at di vegi-nya kali ini kencang sekali. Tubuh putih Wiandra tergencet tubuh hitam berkerut Pak Supa’at di sofa, lantaran Pak Supa’at terus menjejalkan penisnya yang bermuncratan. Bahkan tubuh Wiandra sampai menekuk ke samping dipaksa menyiku di sandaran tangan sofa. Setelah puas mengeluarkan sperma sampai tak bersisa, baru Pak Supa’at berhenti menjejalkan penis. Tubuh seksi Wiandra yang di penuhi peluh pun takluk di pangkuan. Sebelum pingsan, Wiandra masih sempat mendengar Pak Supa’at berkata,

“mulai detik ini… Non ‘ndak usah malu minta kalau mau digituin sama Bapak!, ‘ndak usah pakai goda-godaan lagi.. pasti Bapak puasin Non, ehe ehe ehe ehe. Sebaliknya.. Non juga harus ngelayanin kalau Bapak pingin nonok Non Wiandra, jadi kan adil. Ini rahasia kita berdua Non, tenang saja.. hi hi hi hi, huak hak hak hak” tawa itulah yang terakhir di dengar Wiandra sebelum terlelap.

Selesai…?


JBUUR!!! Jbur!!

“Blurb!! Aah.. Blub! Aah..” Wiandra memburu udara, (Apa-apaan nih? kok tiba-tiba ada di kolam berenang?) pikir Wiandra dalam hati kebingungan.

Masih belum terjawab, tiba-tiba sepasang tangan pria mendekap dari belakang menangkup payudaranya, Wiandra menoleh, (Aaah.. Pak Supa’at?).

“He he he, bangun juga si Non.. tadi mau Bapak biarin tidur, tapi Bapak belum puas.. masih kepingin ngerasain memek si Non, jadi aja Bapak ceburin si Non kesini” ujar Pak Supa’at seenaknya, kurang ajar betul dia membangunkan Wiandra dengan cara brengsek seperti ini.

Wiandra baru saja hendak marah, tapi Pak Supa’at lebih dulu meredam dengan tusukan  jari tengah di vagina,

“Aaaahh…” Wiandra mendesah, ia mencoba berenang menjauh hendak menepi ke tepian kolam berenang, namun jari Pak Supa’at terus mengobok itilnya dan satunya meremas payudaranya.

Wiandra betul-betul sial sekali, sudah di-grepehi sambil diciumi lehernya, dia harus berenang menepi juga dengan tubuh Pak Supa’at membebani karena terus mendekap. Pak Supa’at memang sengaja seperti ini, sampai di tepian, baru dia mengoboki vagina secara gencar hingga Wiandra orgasme dibuatnya. Wiandra hanya kembali pasrah ketika kepala penis menyentuh bibir vaginanya. Sejak tadi di dekap, memang telah ia ketahui kalau penis Pak Supa’at sudah konak siap menyerang sewaktu beberapa kali menyentuh pantat.

“Mumpung sepi Non Wiandra.. kita ewek-an sampai puass, hi hi hi hi. “Jress!!” Ooohh.. Bapak suka memeknya Non, Hggh!” dan Pak Supa’at pun bergerak brutal menyetubuhi Wiandra di kolam berenang, sampai air sekitar mereka beriak.

Wiandra digarap Pak Supa’at di kolam itu dua kali, sekali di dalam air, sekali di tepi kolam. Nafsu supir jahanam itu tidak juga usai, tapi harus berhenti ketika dengar bel rumah tanda Mbok Parmi pembantu rumah pulang dari pasar, dia menggerutu-gerutu sendiri seperti orang gila, tergila-gila memek Wiandra.



“Pak, Wiandra kuliah?” tanya Mami Wiandra ke Pak Supa’at.

“Kurang tahu, Nyah.. coba nanti saya tanyakan.”

“ya sudah, titip pesan aja.. aku pergi agak lama urus butik jadi bawa Mbok Parmi juga.. kemungkinan menginap di Jakarta. Bapak jaga rumah, Wiandra suruh menginap rumah temannya saja dua-tiga hari ini.. tadi aku cari di kamar dia lagi mandi, sudah aku Bebe dia juga sih.. ya, itu saja” Mami Wiandra kemudian memasuki mobil, lalu pergi dengan terburu-buru.

Pak Supa’at menyeringai senang dengan jeleknya sambil menutup pintu gerbang. Dengan santai dia masuk rumah dan menutup pintu utama depan. Satu-persatu dia lepas pakaian kumalnya, lantas menuju kamar Wiandra sambil bersiul.

Tok! tok! tok!, “Awas Non, Bapak datang he he he.” Ceklek!! Pak Supa’at mendorong pintu kamar Wiandra dengan wajah riang, di otak kotornya sudah terbayang memek Wiandra.

Pak Supa’at membeku, ia terpana oleh penampilan seksi Wiandra. Pakaian Wiadra rendah dada, bagian bawahnya pun mini pamer paha, dilengkapi stocking hitam berjaring seperti yang sering dikenakan pemain porno serta high heels hitam. Bandot itu tersenyum jelek senang, sambil mengocok penis dia berkomentar

“bagus-bagus… akhirnya Non faham kalau Non itu sebenarnya lonte Bapak,” katanya.

Sesungguhnya Wiandra tersinggung atas perkataan tersebut, namun ketika melihat penis Pak Supa’at, tubuhnya bergairah, gairahnya menyala-nyala, ingin disetubuhi, ingin penis hitam dihadapannya masuk mengacak-acak vaginanya.

“Mana, gaya nakal Non yang suka godain Bapak?” pancing Pak Supa’at, Wiandra seperti tidak dapat menahan tubuhnya, ia menyamping dan memasang wajah horny-nya ke Pak Supa’at.

Nafsu Pak Supa’at meluap lihat Wiandra yang begitu cantik jelita memasang gaya seksi minta di-entot. Langsung Pak Supa’at terjang Wiandra, menindihnya di kasur dan digaulinya secara membabi buta, memek dipakainya habis-habisan. Mereka berdua tidak keluar kamar selama dua hari itu, makan pun di bawa Pak Supa’at ke dalam. Obat dan jamu kuat ngentot bergeletakan di lantai kamar. Mani belepotan di sprei kasur dan lantai kamar, berceceran keluar memek wangi Wiandra. Pak Supa’at terus mengisinya meski tahu sudah overload (lewat batas tampung ). Wiandra membiarkan hal itu, malah lama-lama terbiasa bahkan menginginkannya. Ia pun resmi sudah jadi budak seks Pak Supa’at. Karma (pembalasan ) seperti apa yang di dapat Pak Supa’at nanti?, jawabnya ada di bagian 14, akhir dari cerita.

Cerita Sex 13 Cara Menjadi Budak Setan Perantara PSK

Subscribe Our Newsletter